semester penentuan

setelah absen dari dunia bloging akibat mencoba untuk move on dari si “kordes”, akhirnya bisa juga mosting blog ini.hehe

WELCOME SEMESTER TUJUH (7)….

Yupp, semester yang bagi orng awam ini harusnya semster dimana kamu sudah lulus …udah dapet gelar S.Pi.. OMG, mendengar kata2 semester 7 yg ada di pikiran malah bikin takut. Gimana enggak, si ortu udah ngomel-ngomel kapan lulus….maksimal Maret kalo bisa.

Seharusnya mereka tahu kek, gak semudah itu skripsi, penelitian, seminar trus sidang dalam waktu cepat. Dan (lagi-lagi) mereka selalu membandingkan dengan kejeniusan kakak saya. Yang bisa mendapat gelar sarjana nya pada bulan Maret. Sementara aku??? 

Emang sih udah ngambil mata kulaih skripsi, udah nentuin pengen penelitian kemana, kapan, dan berapa lama. Tapi kayaknya cobaan skripsi itu emang ada. Baru pgn fokus nyari judul, dpet tawaran ngambil judul ini lah, itu lah.. Dan alhasil judul saya di tolak papi Ocid. 

Mungkin juga karna aku gampang ngedrop, baru di gituin aja langsung gak mood buat ngapa2in. DAn ini bisa pertanda buruk buat kedepannya.

Semoga setelah nulis blog ini, aku dapet petunjuk Mu ya Allah dimana aku harus -penelitian…

Doakan aku ya para Blogger….

Udah dulu ah, mau tidur dulu yak..

setetes embun di malam ini

28 Agustus 2012,

Malam ini gak tau kenapa aku keinget kamu… Seseorang nan jauh di Singapura sana. Ya, kangen sama kamu. Tapi aku tahu, gak bakal kamu kangen sama aku. Toh Dia sudah ada disisimu saat ini.

Semalem aku mimpiin kita berdua. tentang kegiatan KKN kita dulu, tentang AKU dan KAMU..Dan itu rasanya nyata sekali. Taoi yang aku gak tahu, kenapa setiap aku mimpi tentang kita. Kamu ternyata menghubungiku. Aku tak tau harus senang, bahagia, atau sedih. Aku pengen bgt bilng klo aku pgn bles sms mu, atau telp mu. 

Buat kamu disana, 

Aku merindukan suasana KKN kita dulu. Kamu begitu sempurna di mataku. Bukan kayak gini. Kita berjauhan, tetapi saling mendoakan satu sama lain. Itu rasanya menyakitkan..

Aku gak tau apa yang kamu rasain tentang aku atau kita. Aku yakin kamu memendam rasa juga kepadaku, tapi kamu malu. Aku tau diam-diam kamu mengamatiku dari jauh…

Tolonglah, mengerti perasaanku. Kenapa aku mencoba menghindarimu.

Aku ingin melupakanmu. Melupakan kenangan kita. Melupakan hal-hal yang membuatku rindu kepadamu.

Dan sampai sekarang, aku masih berusaha melupakanmu. Walau menyakitkan………

secarik goresan untukmu disana…

2 bulan yang lalu kita dipertemukan….

Mungkin awalnya kamu biasa saja menanggapi diriku ini. Angkuh, sok jaim,pendiam itulah sifatmu yang kau tunjukkan padaku saat kita berkenalan. Dan aku tak menyadari bahwa kamulah orang yang akan menyakitiku disuatu hari…

Aku masih ingat betul waktu kita survey KKN ke suatu desa bernama Krikil. Saat itu kamu menawariku untuk berboncengan denganmu. Dan rasa nyaman itu sudah muncul ketika kamu banyak bercerita tentang kehidupanmu.

17 Juli 2012, awal KKN dimulai…

Kamu tak pernah menyadari, lambat laun aku mulai memperhatikan dirimu. Dan aku mulai mengagumimu dari jauh. Yah…aku senang karna 30 hari kedepan aku akan bertemu denganmu, tiap jam tiap menit tiap detik aku akan bisa memandangmu tanpa ragu- ragu. Pagi, siang, malam, menjelang tidur pun aku akan bisa memandang dirimu walau kau tak pernah menyadariku.

Hubungan kita pun yang awalnya kaku, perlahan mulai cair.. Kau mulai menggangguku, dan aku menyukai itu. Kau mulai cemburu ketika aku pergi dengan teman KKN mu. Kau mulai menasehatiku ketika aku melalkukan kesalahan. Kau mulai mencari kesempatan untuk bicara dengan ku berdua saja. Kau mulai merayuku, berbicara tentang masa depan. Dan kau tau?aku bahagia kau lakukan seperti itu.

KIta mulai mencari waktu buat berdua, pergi berdua saja, berbicara berdua, dan kau mulai memperhatikanku. Dan rasa sayangku kepadamu sudah bertambah. Mungkin aku terlalu cepat jatuh cinta kepadamu, tapi aku tau cinta yang kurasakan ini berbeda dari cinta- cinta yang pernah ada..

27 Juli 2012, kau mulai mengatakan ingin jadi pacarku.

Mungkin kau hanya bercanda, tapi aku ingat betul. Sehabis saur, aku tidur di depan tv dan kau menghampiriku. Dan berbisik padaku bahwa kau ingin menjadi pacarku. Kau tau bagaimana perasaanku saat itu?? bahagia. Ingin aku bilang IYA, Kau boleh jadi pacarku. Tapi aku takbisa, karna kau sudah punya DIA..

Kau tahu AKU SAYANG KAMU….tapi kau masih mengharapkan DIA.. Kenapa kau menyatakan bahwa kau ingin jadi  pacaku??KAU mempermaikan hatiku sayang….

Hari berganti hari, perasaan sayang ini tak bisa ditutupi lagi. Kau mulai memegang tanganku, dan aku nyaman. Ketika aku curhat kepadamu, dan kau tahu aku akan bersedih kau mulai memelukku untuk menenangkanku…

Aku tau KAU sudah mulai ada rasa denganku….

Dan malam itu, kau ingin berbicara kepadaku. Kau bilang bahwa yang kita lakukan selama ini karna sayang sebagai TEMAN…. Teman??? teman apa yang kau bicarakan??dan KAU bilang bahwa KAU masih mencintai DIA. KAU anggap yang kita lakukan selama ini hanya TEMAN??? KAU MUNAFIK!!!!!

Aku sudah mulai menjauhi ketika KKN kita selesai….aku mencoba jatuh, sakit tanpamu…

Mana mungkin aku bisa melupakan dirimu setelah 30 hari kita bersama-sama….

16 Agustus 2012,Kau menghubungi diriku dan bilang bahwa kau KANGEN padaku.

Aku bahagia ketika kau mengatakan itu, kita sudah mulai intens berhubungan. Memanggil SAYANG . KUMAIROH DAN PAIJO bersatu selamanya. KAu mengatakan itu. Dan aku luluh olehmu.

AKu tak pedul kau dengan DIA ada masalah, atau kenapa. Yang aku tahu, kau milikku saat itu..

22 Agustus, kau memintaku untuk merelakanmu dengan DIA..

 KAU  tahu apa yang kurasakan saat itu????AKU INGIN MENAMPARMU. DAN BICARA DI HADAPANMU!!!KAU TERLALU MUNAFIK UNTUK MENGATAKAN SAYANG PADAKU!!!

Kau bilng, kau khilaf melalkukan hubungan pacaran denganku. SEENAKMU mengatakan bahwa kau khilaf. Lihat DIA?? Kau memperjuangkan dia tanpa melihat perasaanku. KAU menyakitiku…terlalu sakit aku menerima semua ini…

Banyak kenangan yang kita lakukan, sedih duka gembira kita lalui. Dan KAU hanya bilang KHILAF karena membawa aku kedalam cerita cintamu..

AKU SAYANG KAMU MELEBIHI DIA!! kau pun tahu..tapi kau lebih memilih dirinya..dan aku  menerima dengan kesakitan…

Aku kini berusaha bangkit tanpamu. MELUPAKAN SEMUA KENANGAN denganmu. DAN MERAWAT BENCIKU KEPADAMU AGAR AKU TAK SAKIT KARNAMU..

Untukmu yang disana, aku berusaha untuk melupakanmu. Selamat berjuang untukmu yang memilihku untuk kau lepaskan, dan memilih DIA untuk kau perjuangkan…

Sampai kau baca tulisan ini di suatu hari nanti, kau bakal menyesal karena kau menyakitiku..

 

Image

Laporan akustik BBPPI 2012 PSP UNDIP

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.      Gambaran Umum Lokasi Praktikum

            Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) berlokasi di Pelabuhan Tanjung Emas Pos 1 jalan Yos Sudarso Kalibaru Barat, Tanjung Mas, Semarang, dengan keadaan geografisnya di  permukaan yang datar di dataran rendah kota Semarang. Lahan yang digunakan oleh BBPPI adalah lahan PT PELABUHAN INDONESIA III yang menaungi Pelabuhan Tanjung Emas. BBPPI memiliki 3 (tiga) gedung utama, 1 (satu) bengkel, 1 (satu) tempat penyimpanan dan  peragaan alat tangkap, 2 (dua) wisma penginapan, 1 (satu) mesjid, 9 (sembilan) Kapal Latih dan Survei serta 1 (satu) Dermaga yang terletak di depan kantor utama.

         Secara geografis lokasi Balai Besar Pengembangan Penangkapan Ikan (BBPPI) berada pada koordinat 110°19’45” BT dan 6°55’21” LS, berbatasan langsung dengan :

Sebelah Utara              : Laut Jawa

Sebelah Selatan           : Jagalan

Sebelah Timur             : Tambak Lorok

Sebelah Barat              : Pelabuhan Tanjung Mas

 

4.2.      Deskripsi Kapal dan Alat Bantu Navigasi

Menurut Setiyanto (2005), kapal merupakan suatu bangunan terapung yang berfungsi sebagai wadah, tempat bekerja (working area) dan sarana trasportasi. Sistem permesinan yang ada dalam perkapalan sebagai unit mesin yang dapat menghasilkan suatu tenaga penggerak baik sebagai mesin induk maupun sebagai mesin bantu lainnya, maka dalam perkapalan ada beberapa persyaratan yang wajib diketahui oleh para teknisi yang bergerak pada bidang perkapalan. Berdasarkan pada ketentuan dalam IEC (International Engineering Corporation) publikasi terbitan nomor 92 tahun 1962.

Berdasarkan hasil pengamatan pada saat praktikum Akustik Kepelautan antara lain:

1. Kapal KM. Albakora

          Kapal Albakora merupakan kapal penangkap ikan dengan alat tangkap long line. Alat bantu penangkapan ikan kapal Albakora merupakan jenis kapal multy purpose yaitu menangkap menggunakan beberapa jenis alat tangkap. Alat tangkap yang digunakan antara lain:

a)        Line thrower        :      kecepatan tebar 374-600 m/menit, putaran kerja 793-1000 RPM,

b)        Line hauler          :      kecepatan tarik 196-131 m/menit, putaran kerja 274-183 RPM,

c)        Line arranger      :      kecepatan tarik 272-348 m/menit,

d)       Branch line ace    :      kecepatan tarik 157-174 m/menit, putaran kerja 188-216 RPM, dan

e)        Slow conveyor     :      kecepatan tarik 2 m/menit.

Adapun alat navigasi yang terdapat pada KM Albakora adalah sebagai berikut:

  1. Kompas sejati    :    Alat navigasi untuk mencari arah berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat.
  2. Echosounder     :    Alat yang digunakan untuk mengetahui keberadaan benda-benda di bawah air.
  3.  Auto pilot          :    Alat yang berfungsi sebagai pengganti operator dalam menjalankan kapal.
  4.  SONAR           :    Sebuah teknik yang menggunakan penjalaran suara dalam air untuk navigasi atau mendeteksi kendaraan air lainnya.
  5. RDF                  :    Alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan penerimaan gelombang radio untuk mengetahui arah dan perkiraan jarak pemancar.
  6. GPS                   :    Alat yang digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu.

2. Kapal KM. Trevally

          Kapal Trevally tergolong dalam jenis kapal penangkap ikan multy purpose, yaitu kapal dilengkapi dengan beberapa jenis alat tangkap. Alat bantu penangkapan yang digunakan antara lain:

  1. Purse Seine alat bantu penangkapan yang digunakan adalah purse winch, power block, dan dewi-dewi,
  2. Pancing dasar (bottom long line) alat bantu yang digunakan adalah line hauler; dan
  3. Gill net/Trammel net/jaring millennium alat bantu yang digunakan adalah net hauler

 

 

Adapun alat navigasi yang terdapat pada KM Trevally adalah sebagai berikut:

  1. Kompas sejati    :    Alat navigasi untuk mencari arah berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat.
  2.  Fish finder        :    Alat yang digunakan untuk mengetahui informasi keberadaan ikan, topografi bawah laut, dan kedalaman laut.
  3.  SONAR           : Sebuah teknik yang menggunakan penjalaran suara dalam air untuk navigasi atau mendeteksi kendaraan air lainnya.
  4. GPS                   :    Alat yang digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu.

3. Kapal KM. Baramundi

          Kapal Baramundi merupakan kapal penangkap ikan dengan alat tangkap double trawl. Kapal ini memiliki alat bantu penangkapan antara lain:

  1. Echosounder     :    Alat yang digunakan untuk mengetahui keberadaan benda-benda di bawah air.
  2. Kompas sejati    :    Alat navigasi untuk mencari arah berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat.
  3.  Fish finder        :    Alat yang digunakan untuk mengetahui informasi keberadaan ikan, topografi bawah laut, dan kedalaman laut.
  4.  SONAR           : Sebuah teknik yang menggunakan penjalaran suara dalam air untuk navigasi atau mendeteksi kendaraan air lainnya.
  5. GPS                   :    Alat yang digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu.

 

4.3.      Alat Akustik Kelautan

4.3.1.   Echosounder

 Berdasarkan hasil pengamatan pada saat praktikum Akustik Kepelautan, sesuai dengan namanya echo yang berarti gema dalam bahasa Inggris, alat ini mempunyai prinsip memancarkan bunyi dan kemudian gema-nya atau bunyi pantulannya ditangkap kembali untuk mengetahui keberadaan benda-benda di bawah air. Echosounder ini perambatan suaranya secara horisontal, sehingga alat ini dapat lebih melihat secara luas daerah-daerah yang ada disekitarnya secara global.

          Menurut Imron dan Mulyono (2004), Echosounder adalah salah satu alat bantu penangkapan yang menggunakan prinsip pengukuran kedalaman laut berdasarkan pulsa getaran suara. Getaran pulsa-pulsa tersebut dipancarkan dari tranduser kapal secara vertikal ke dasar laut, selanjutnya permukan dasar laut akan memantulkan kembali pulsa-pulsa itu kemudian diterima oleh tranducer kapal. Selang waktu pulsa saat dipancarkan saat kembali ke receiver dapat dihitung, sedangkan kecepatan membuat suara di air dapat dikatakan tetep, sehingga setengah waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan suara di air dapat dihitung sebagai kedalaman air.

 

         Komponen Echosounder yang berada di kapal penangkapan terdiri dari:

  1. Transmiter

       Transmiter adalah komponen pembangkit pulsa listrik pada frekuensi tertentu. Pulsa gerbang di buat di dalam komponen pembentuk pulsa dimana panjang dan lama pulsa ditentukan. Pulsa yang dibangkitkan oleh isolator kemudian dikuatkan dalam power amplifier sebelum disalurkan ke transducer.

  1. Transducer

       Transducer adalah alat untuk mengubah energi listrik menjadi energi suara kemudian suara tersebut dipancarkan ke dalam laut, juga sebaliknya merubah energi suara menjadi energi listrik, pada saat pantulan berupa gema (echo) diterima. Fungsi lainnya yaitu ntuk menghimpun energi suara yang dipncarkan ke dalam beam (sudut sorotan). Dalam perikanan digunakan transducer nickel dan transducer keramik.

  1. Receiver

       Receiver adalah alat untuk menguatkan sinyal listrik yang lemah dari transducer saat gema (echo) terjadi sebelum dialirkan ke recorder. Penguatan ini dilakukan pada receiver dan jumlah penguatan dapat dibedakan oleh sensivitas (kepekaan) atau volume control.

  1. Recorder

       Recorder berfungsi sebagai alat pencatat yang ditulis ke dalam kertas serta menampilkan pada layar display CRT (Cathoda Ray Tube) berupa sinar osilasi (untuk layar warna) ataupun berupa tampilan sorotan lampu neon (untuk echo sounder tanpa rekaman), selain itu juga dapat berfungsi sebagai pemberi sinyal untuk menguatkan pulsa transmisi dan penahanan awal penerimaan echo pada saat yang sama.

            Cara kerja dari penggunaan Echosounder adalah transmitter memproduksi pulsa-pulsa listrik kemudian disalurkan ke transduser, transduser mengubah pulsa listrik menjadi pulsa suara. Pulsa-pulsa tersebut dipancarkan transducer kapal secara vertical ke dasar laut, selanjutnya permukaan laut akan memantulkan kembali pulsa-pulsa itu. Pulsa-pulsa yang dipantulkan transducer diterima oleh receiver. Receiver menguatkan sinyal listrik yang masih lemah dari transducer kemudian dipancarkan ke recorder. Oleh recorder pulsa-pulsa tersebut dicatat ke dalam kertas serta ditampilkan pada layar display CRT (Cathoda Ray Tube) berupa sinar osilasi ataupun berupa tampilan sorotan lampu neon.

Kelemahan dari echosounder jika semakin dalam laut, gambar yang dihasilkan semakin tidak jelas (tidak terlihat lebih spesifik gambar karang, ikan, kapal karam, dan sebagainya). Contoh ketika echosounder digunakan di akuarium yang berisi ikan, gambar yang dihasilkan lebih jelas, hal ini dipengaruhi oleh laut. Disamping itu mengganggu komunikasi antar hewan laut contohnya paus dan lumba–lumba. Keuntungannya dapat mengukur kedalaman laut yang disertai dengan pemetaan dasar laut, disamping itu digunakan nelayan untuk mengetahui gerombolan ikan, serta dapat mengukur suhu air pada kedalaman tertentu (Parkinson, 1996).

 

 

 

 

4.3.2.      Fish Finder

Fish finder adalah alat elektronik yang terdapat di kapal yang digunakan untuk mengukur kedalaman air laut. Prinsip kerja fish finder sama dengan echo sounder yaitu mengukur kedalaman laut berdasarkan pulsa getaran suara. Getaran pulsa tersebut dipancarkan transducer kapal secara vertikal ke dasar laut, selanjutnya permukaan dasar laut akan memantulkan kembali pulsa tersebut, kemudian diterima oleh transducer kapal (Supriyono, 2000).

Menurut Akmal (1975), selang waktu pulsa saat dipancarkan sampai kembali ke receiver dapat dihitung, sedangkan kecepatan suara di air dapat dikatakan tetap, maka setengah waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan suara di air dapat dihitung kedalaman air.

            Adapun bagian-bagian dari alat fish finder dapat dilihat pada uraian di bawah ini:

  1.  Transmiter

Komponen pembangkit pulsa listrik pada frekuensi tertentu. Pulsa gerbang dibuat dalam komponen pembentuk pulsa dimana panjang dan lama pulsa ditentukan. Pulsa yang dibangkitkan oleh osilator kemudian dikuatkan dalam power amplifier sebelum disalurkan pada transducer.

  1. Transducer

Tranducer adalah alat untuk mengubah energi listrik menjadi energi suara kemudian suara tersebut dipancarkan ke dalam laut, juga sebaliknya merubah energi suara menjadi energi listrik, pada saat pantulan berupa gema diterima. Fungsi lainnya yaitu untuk menghimpun energi suara yang dipancarkan ke dalam beam (sudut sorotan), dalam perikanan digunakan transducer nickel dan transducer keramik.

  1. Receiver

     Alat untuk menguatkan sinyal listrik yang masih lemah dari transducer saat gema terjadi sebelum dialirkan dalam recorder. Penguatan ini dilakukan pada receiver dan jumlah penguatan dapat dibedakan oleh sensitifitas (kepekaan) atau volume control.

  1. Recorder

      Berfungsi sebagai alat pencatat yang ditulis kedalam kertas serta menampilkannya pada layar display CRT (Cathoda Ray Tube) berupa sinar osilasi (untuk layar warna) ataupun berupa tampilan sorotan lampu neon (untuk echo sounder tanpa rekaman), selain itu juga dapat berfungsi sebagai sinyal untuk menguatkan pulsa transmisi dan penahanan awal penerimaan echo pada saat yang sama.

          Untuk mengoperasikan fish finder, perlu mengetahui fungsi dari berbagi tombol yang tersedia pada display unit. Berbagai merk pabrikan fish finder yang mempunyai versi sendiri-sendiri, namun secara garis besar fungsinya hampir sama. Macam dan fungsi tombol-tombol tersebut, antara lain:

  • Power On – Off, berfungsi untuk menghidupkan dan mematikan fish finder.
  • Gain, berfungsi untuk mengatur kepekaan gambar pada recorder
  • White Line, tombol ini berfungsi untuk memperjelas garis dasar peraian serta untuk membedakan antara garis dasar perairan dengan benda-benda yang berada didekat dasar perairan seperti ikan atau udang.
  • Depth Range, untuk mengatur range kedalaman yang akan dideteksi
  • Phase Range, tombol untuk memilih  tingkatan jarak atau lapisan kedalaman, dimana setiap lapisan kedalaman disesuaikan dengan  jumlah kelompok jarak kedalaman.
  • Paper speed, untuk mengatur kecepatan kertas perekam. Biasanya ada pilihan lambat, sedang dan cepat.

            Ada beberapa keuntungan dari penggunaan fish finder ini untuk pendugaan stok ikan, antara lain :

  • Waktu yang diperlukan untuk survei pendugaan stok relatif lebih singkat dan cepat.
  • Area Survey yang dapat diliput, cakupannya lebih luas.
  • Keluaran atau hasil survei lebih variatif
  • Akurasi hasil survei lebih baik disbanding dengan metoda lain.

Disamping kelebihan – kelebihannya, penggunaan metoda fish finder ada kelemahannya pula, antara lain :

  • Perangkat keras fish finder untuk yang canggih harganya relatif mahal.
  • Masih langkanya ketersediaan suku cadang, andaikata ada hanya terdapat dikota-kota besar.
  • Masih sedikitnya sumberdaya manusia (SDM) yang mumpuni untuk mengoperasikan, merawat dan memperbaiki peralatan fish finder.

4.3.3.   Sonar

            Sonar (Sound Navigation Ranging) adalah suatu alat yang dikembangkan untuk mendeteksi obyek di bawah air. Alat sonar paling sederhana mengirimkan getaran bunyi dari sebuah transduser, dan kemudian mengukur dengan tepat waktu yang diperlukan getaran bunyi tadi untuk kembali / memantul ke transduser. Jarak obyek dapat dihitung dengan perbedaan waktu dan cepat rambat bunyi di air

a. Komponen sonar

     Susunan kompnen sonar sama dengan fish finder, yaitu terdiri dari: transmitter, transducer, receiver dan recorder.

  • Transmitter

     Transmitter seperti halnya pada fish finder adalah mengirimkan pulsa listrik ke transducer, namun sebelum sampai di transducer, pulsa listrik tadi diperkuat terlebih dahulu dari hanya beberapa watt (W) menjadi ribuan Watt (Kw).

  • Transducer

       Alat ini berfungsi menerima pulsa listrik dari transducer, kemudian memperkuat terlebih dahulu, kemudian  mengubahnya menjadi pulsa suara, dan selanjutnya memancarkannya kedalam media air laut secara horizontal maupun vertikal dan menerima kembali sinyal pantulan tadi serta mengubah kembali menjadi pulsa listrik dan mengirimkan ke receiver.

  • Receiver

       Receiver berfungsi untuk memperkuat energi pulsa listrik yang lemah dari transducer menjadi kira-kira satu juta kali yang kemudian siap diproses dan diteruskan ke recorder.

  • Recorder

       Recorder berfungsi menggambarkan informasi pulsa listrik pada layar PPI  (pada sonar konvensional), sedangkan gambaran  target pada  omni sonar  dapat dilihat seperti pada contoh dibawah ini.

 

b. Cara Pengoperasian

       Dalam pengoperasian, seperti hal peralatan bantu lainnya sonar dilengkapi dengan beberapa tombol, antara lain:

  • Mainr switch.

       Fungsi  tombol ini adalah untuk menghidupkan atau mematikan semua komponen sonar. Pada  mainswitch ini terdapat 4 tombol,yaitu : Power, Up, Mid dan Down. Power; Tombol untuk menghidupkan perangkat sonar. Up; Pada posisi ini transducer pada posisi diatas, atau didalam tabung pelindung pada lambung bawah kapal. Disamping itu tombol ini berfungsi untuk menaikkan transducer keatas. Middle; Menaikkan dan menurunkan transducer pada posisi separuh. Down; Menurunkan transducer pada posisi terbawah.

  • Target marker

       Dengan menekan tombol+0l ini maka pada layar monitor akan muncul tanda segitiga sebagai simbol target ikan.

  • Own Ship Marker

       Dengan menekan tombol ini, akan muncul tanda kapal sebagai kapal sendiri. Data posisi kapal akan muncul pada menu Objects.

  • Circle Marker

       Tanda ini berfungsi untuk mengestimasi besarnya gerombolan ikan atau dapat juga digunakan untuk mengindikasikan ukuran daripada purse seine.

  • Gear Symbol

       Tanda ini bisa digunakan untuk purse seine atau trawl, tergantung dari parameter yang dipilih dengan menekan tombol gear ini pada menu Set Up.

 

  • Gain

       Tombol ini untuk mencari gambar tampilan yang optimum dengan cara membesarkan atau mengecilkan sinyal echo yang diterima. terdapat 2 pilihan, yaitu horizontal dan vertikal

  • Range Control

       Ada 2 pilihan pengaturan jarak, yaitu secara horizontal dan vertikal.

  • Cursor

       Cursor hanya digunakan untuk opientasi gambar tampilan dan operasional menu.

  • Trackball

       Digunakan untuk menggerakkan cursor, seperti mouse pada komputer

  • Tilt

       Tombol ini adalah untuk menggerakkan dan mengarahkan transducer pada sudut kemiringan yang dikehendaki.

          Keuntungan menggunakan sonar adalah bahwa pergerakan target ikan yang terdeteksi dapat diikuti secara terus menerus, sedangkan pada sonar konvensional pada saat putaran sinyal sudah lewat, ada kemungkinan ikan sudah bergerak, sehingga pada putaran sinyal berikutnya target ikan sudah tidak terdeteksi lagi.

          Sedangkan kelemahannya adalah selain harganya cukup mahal, juga memerlukan ruangan yang cukup besar. Karena peralatannya cukup canggih sehingga sangat peka terhadap perubahan temperatur ruangan transducer, dan untuk menjaga agar temperatur ruangan tetap rendah, ruangan tersebut dipasang air conditioning.

 

4.3.4.   Radar

Radar merupakan singkatan dari Radio Detection and Ranging yaitu pesawat yang mengirimkan gelombang radio berupa pulsa-pulsa. Pulsa-pulsa yang dikirimkan tersebut, setelah mengenai target dengan kekerasan tertentu  (misalnya pantai) akan dipantulkan kembali ke kapal dan oleh ‘scanner’. Radar akan diterima gema pulsa tesebut. Setelah melalui penguatan, gema tersebut diubah menjadi video frequency, sehingga dapat ditampilkan pada layar Radar (CRT). Radar berfungsi untuk mengetahui keadaan di depan kapal waktu berlayar dalam keadaan kabut, gelap atau hujan lebat. Misalnya jika ada kapal dari arah lain maka akan terlihat pada layer radar  (Raemer, 1997).

Obyek pengamatan radar dapat berupa:  kapal, pulau, radar reflektor, pelampung rambu dan benda lainnya yang dapat memantulkan gelombang elektromagnetik, bahkan awan yang rendah serta hujanpun dapat dideteksi oleh radar.

a. Komponen radar

          Secara garis besar komponen radar tersusun antara lain: transmitter, scanner, receiver dan display unit.

  • Transmitter

       Transmitter (pemancar), adalah salah satu komponen radar yang menghasilkan pulsa gelombang elektromagnetik. Pulsa tersebut disalurkan ke scanner untuk selanjutnya dipancarkan keluar menuju obyek (target / sasaran).

          Pada transmitter terdapat tabung ”microwave oscilator” (dinamakan magnetron), yang menghasilkan gelombang elektromagnetik berfrekuensi tinggi antara 3.000 ~ 10.000 MHz (Megahertz). Pada kapal perang digunakan frekuensi hingga mencapai 30.000 MHz.

  • Scanner

     Scanner merupakan antenna pemancar dan penerima pulsa (transmitter and receiver) gelombang microwave. Scanner bergerak berputar pada sumbunya menempuh putaran 360 derajat secara terus menerus dan berulang-ulang.  Sambil bergerak berputar, scanner memusatkan gelombang elektromagnetik dan memancarkannya secara terus menerus pada selang waktu tertentu menuju obyek. Pantulan (echo) geleombang elektromagnet yang dipantulkan oleh obyek kemudian diterima kembali pada scanner untuk selanjutnya diteruskan ke unit penerima (receiver).

  • Receiver

     Receiver berfungsi menerima dan memperkuat sinyal gelombang pantulan (echo) yang diperoleh dari obyek dan merubahnya menjadi sinyal listrik untuk kemudian diteruskan ke display unit.

  • Display Unit

     Display unit menerima sinyal yang dikirimkan oleh receiver, kemudian ditampilkan data obyek berupa gambar pada layar kaca yang terbuat dari tabung CRT (cathode ray tube). Layar tampilan pada tabung CRT tersebut dinamakan Position Plan Indicator (PPI). Pengamat dapat melihat atau mengamati keadaan obyek dari tampilan display unit ini berupa baringan dan jarak dari kapal pengamat ke obyek. Pada display unit ini dilengkapi dengan tombol-tombol yang berfungsi untuk mengoperasikan radar tersebut.

b. Cara pengoperasian radar

          Sejalan dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan, maka teknologi yang diterapkan pada radar semakin meningkat. Bermacam merk dan jenis radar dipasarkan dengan beraneka fasilitas teknologi yang ditawarkan, antara lain: bentuk radar, jenis-jenis tombol penyetel pun bervariasi. Namun demikian, walaupun bermacam-macam akan tetapi pada dasarnya cara penggunaannya terdapat suatu prosedur yang baku.

          Tombol pengatur yang terdapat pada display unit  radar:

  • Tombol Power

     Pada tombol power terdapat 3 arah tampilan yaitu tombol OFF, Stanby, ON. Pada posisi OFF aliran sumber tenaga (aliran listrik) yang menuju radar  diputuskan, sehingga seluruh komponen radar tidak bekerja. Posisi Stanby sumber tenaga yang menuju ke radar dialirkan, dan pada kedudukan tersebut aliran sumber tenaga dikendalikan oleh pengatur waktu (timer) untuk pemanasan  (warming up) seluruh komponen radar. Pada umumnya pemanasan memerlukan waktu antara 3-5 menit. Sebelum lampu indikator READY menyala, tombol power belum diijinkan diputar pada arah ON. Posisi ON; pada posisi ini seluruh komponen radar sudah siap untuk dioperasikan.

  • Brightness

     Tombol brightness merupakan pengatur terang atau gelapnya layar kaca (PPI) . Dengan memutar tombol searah jarum jam, maka tampilan lingkaran jarak, garis baringan dan obyek dapat dilihat  pada PPI.

  • Sensitivity

     Tombol sensitivity (kepekaan), adalah untuk mengatur kepekaan penerimaan receiver. Dengan memutar tombol ini searah jarum jam, display unit akan mengatur kepekaannya untuk menghilangkan tampilan gambar yang kotor (noise) agar layar PPI dapat menampilkan gambar yang jelas.

  • Tuning

     Tombol tuning berfungsi untuk mengatur penerimaan echo dari obyek yang akan ditampilkan. Untuk maksud tersebut, diupayakan jarum penunjuk tuning (tuning meter) menunjuk pada tanda optimum, agar tampilan gambar pada PPI sempurna.

  • STC (Sea Turned Control)

     Pada saat cuaca buruk, ketika sedang melakukan pelayaran dilaut permukaan gelombang laut dapat terdeteksi oleh radar dan tergambar pada PPI, yang menyebabkan tampilan obyek terkadang tertutup oleh pantulan gelombang laut tersebut. Dengan mengatur tombol STC, maka kepekaan penerimaan refleksi sinyal permukaan laut diperlemah, sehingga tampilan gambar obyek menjadi lebih jelas.

  • FTC (Fog Turned Control)

     Ketika awan gelap dan rendah, atau hujan lebat maupun salju tampak pada tampilan layar PPI, maka pengamat menjadi sulit untuk mengidentifikasi gambar obyek pada PPI. Dengan mengatur tombol FTC, maka kepekaan penerimaan pantulan dari hujan, awan ataupun salju dapat dikurangi, sehingga tampilan gambar obyek menjadi lebih jelas.

  • Cursor

Cursor digunakan untuk memutar piringan penunjuk arah baringan (azimuth) kapal terhadap obyek pada layar PPI.

 

 

 

  • Ring Marker

Tombol ini berfungsi untuk menampilkan lingkaran jarak dari pada PPI. Dengan mengetahui jarak yang terdapat pada PPI tersebut, maka pengamat dapat menduga berapa jarak dari pengamat ke obyek tersebut.

  • VRM (Variable Ring Marker)

         Dengan mengatur tombol ini dapat menduga jarak dan arah baringan dari pengamat terhadap obyek.

            Kelemahan dari Radar antara lain:

1.  Merupakan teknologi yang lambat dalam penyajian data

2. Merupakan suatu sinyal yang di pantulkan oleh kedua obyek harus di terima antena secara terpisah

3.  Spektum elektromagnetik dalam kondisi yang stabil

Keunggulan dari Radar antara lain:

1.  Mampu menyajikan data yang akurat

2.  Sistim penggunaan radar , satelit , wahana semakin canggih

3.  Teknolgi penerapan radar , satelit , wahana.

4.  Obyek penentuan dapat di sajikan

         Ada banyak keuntungan penggunaan radar untuk remote sensing. Sensor radar tersedia pada semua kapabilitas cuaca sebagaimana energi gelombang mikro menembus awan dan hujan, biarpun, hujan menjadi sebuah faktor pada radar wavelength < 3 cm. Sensor radar merupakan system penginderaan jauh yang aktif (active remote sensing system), independen terhadap cahaya matahari, menyediakan sumber energi sendiri, dan juga mampu menyediakan kemampuan pada siang/malam.

4.3.5.   GPS

            Global Positioning System atau lebih dikenal dengan singkatannya yaitu GPS adalah suatu sistem navigasi  berdasarkan penghitungan satelit yang mempunyai  ketepatan tinggi. Pertama kali peralatan ini dikembangkan oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk kepentingan militer, akan tetapi pada saat sekarang sudah digunakan secara luas untuk keperluan komersial maupun rekreasi.

Pada saat keadaan tersedia penuh, bumi diliput oleh suatu konstelasi satelit yang   terdiri  dari 24 buah, ditempatkan menyebar pada ketinggian mendekati 20.000 km pada orbit bumi yang beredar secara terus menerus memancarkan keseluruh penjuru dunia, mengenai posisi, cuaca, waktu dan informasi kecepatan kepada seluruh pesawat penerima GPS.  Jadi fungsi pesawat penerima GPS adalah untuk mengetahui letak atau posisi alat ini (pesawat penerima GPS) secara akurat, yaitu berdasarkan letak koordinat bumi atau perpotongan antara garis bujur dan garis lintang (Longitude and Latitude Coordinate).

Untuk dunia perikanan khususnya, pesawat penerima GPS ini sangat berguna karena dapat dimanfaatkan antara lain untuk:

  • Menentukan posisi kapal.
  • Mencari kembali posisi yang telah dilalui.
  • Menyimpan posisi/ koordinat pemasangan alat tangkap ikan seperti: bubu, gillnet, longline, dsb.
  • Menentukan arah haluan kapal dengan haluan sejati, sehingga tidak perlu menghitung variasi maupun deviasi sebagaimana pada kompas magnet

Cara pesawat penerima GPS menentukan posisinya ialah dengan menerima pancaran dari 3 (atau 4) satelit pada garis pandangnya dengan langkah – langkah dasar sebagai berikut:

  • Satelit GPS secara terus menerus memancarkan data orbitnya yang sangat tepat yang disebut ephemeris. Dengan data ini pesewat penerima GPS langsung menghitung posisi satelit.
  • Pesawat penerima GPS menghitung jaraknya terhadap satelit-satelit secara akurat.
  • Lokasi-lokasi satelit berikut jarak-jaraknya dari pesawat penerima GPS dapat diketahui. Pesawat GPS menetapkan posisinya sendiri terhadap satelit dengan bentuk sudut segitiga.

Hampir sama dengan alat penginderaan jarak jauh lainnya seperti Radar, dimana untuk menetapkan posisi yang paling akurat yang akan diperoleh jika diantara obyek-obyek sasaran mempunyai sudut pandang mendekati 90º satu sama lain dari posisi kita.  Begitu pula dengan GPS, secara umum bahwa semakin jauh letak satu satelit dengan satelit lainnya maka ketepatan posisinya akan lebih tinggi.

a. Bagian-bagian GPS

Pada umumnya pesewat GPS terdiri dari 2 bagian / unit:

  1. 1.    Unit Antena

Bentuknya beragam, ada yang berbentuk tabung, bentuk setengah bulat piringan tebal bahkan ada yang berbentuk bola besar.

 

 

  1. 2.    Unit Display

Pada umumnya bentuk display berupa layar monitor (LED) kecil berikut papan tombol (keyboard) nya menjadi satu. ( namun ada beberapa pabrikan yang memproduksi GPS yang bagian display dan antenanya menjadi satu, bahkan ada pula yang berukuran saku).

b. Pemasangan pesawat penerima GPS dikapal

Untuk mendapatkan hasil yang optimal dalam penerimaan sinyal satelit pada pesawat penerima GPS, maka pemasangan unit antenna maupun unit display sebaiknya memperhatikan hal-hal berikut ini:

  1. 1.   Unit Antena
  • Dipasang jauh dari sorotan scanner Radar, karena sorotan Radar akan menghalangi penerimaan sinyal satelit GPS.
  • Pastikan bahwa lokasi disekitar antenna tidak menutupi garis pandang kearah satelit.  Benda-benda  disekitar antenna seperti tiang kapal, atau cerobong asap dapat menghalangi penerimaan sinyal satelit GPS.
  • Memasang antenna setinggi mungkin, hal ini juga akan menjaga dari percikan air laut.

2.   Unit Display

  • Tempatkan unit display jauh dari sengatan matahari langsung, karena panas tersebut akan menjalar ke bagian dalam kabinet dan akan membuat komponen-komponen didalamnya bekerja tidak normal.
  • Suhu dan kelembaban disekitar display harus stabil dan sedang.
  • Tempatkan display jauh dari pipa knalpot dan lubang angin.
  • Perlu adanya sirkulasi udara yang cukup.
  • Penempatan pemasangan unit display diusahakan dilokasi yang getarannya seminimal mungkin.

c. Pengoprasian GPS

     Pada saat tombol  Power ditekan (on) , unit display tidak langsung mengeluarkan tampilan posisi sekarang, namun harus menunggu kurang lebih 2 menit untuk proses pencarian almanac (data yang berisi informasi orbit) yang dipancarkan oleh satelit-satelit GPS.  Setiap satelit selalu memancarkan data orbit dirinya sendiri serta perkiraan data orbit hampir semua satelit GPS yang ada. Kemudian baru penerimaan awal almanac sekitar beberapa puluh detik. Proses  tersebut secara keseluruhan akan memerlukan waktu  2 – 3 menit. Setelah itu Unit Display akan menampilkan beberapa informasi pada layar LCD yang antara lain mengenai:

  1. Waktu (Time)

Menerangkan waktu saat ini berdasarkan waktu internasional (UTC). Untuk penggunaan waktu local (Local Mean Time) dapat disesuaikan dengan cara yang biasanya diuraikan melalui fungsi tombol menu.

  1. Posisi

Menerangkan posisi saat ini yang merupakan koordinat garis lintang dan garis bujur (Latitude and Longitude) dari pesawat penerima GPS ini berada. Contoh:  34º 44’ 321 N 35º 21’ 567 E. Ini menunjukkan bahwa kapal berada pada koordinat (perpotongan) antara garis Lintang Utara 34 derajat  44,321 menit dengan garis Bujur Timur 35 derajat 21,567 menit.

 

 

  1. Haluan (Course)

Menerangkan haluan kapal saat ini. Contoh :  C =123º, berarti kapal bergerak/ berjalan dengan arah haluan  sejati 123˚.

  1. Kecepatan (Speed)

Menerangkan kecepatan kapal saat ini, tertulis dalam satuan knot (KT). Informasi tersebut diatas tampil pada layar display sebagai tampilan standard atau sama dengan tampilan pada tombol “pos”.

  1. Papan tombol (keyboard)

4.3.6.   Ruang Simulator

            Dalam ruangan simulator didesain sedemikian rupa sehingga menyerupai sekali dengan aslinya seperti kita sedang menjadi nakhoda kapal dengan layout yang mirip dengan keadaan dipelabuhan  Tanjung emas. Ruangan ini berfungsi sebagai tempat pembelajaran bagi para pemula ABK kapal sebelum mengoperasikannya dilautan. Isi dari ruangan navigasi di setting sedemikian rupa sehingga tempat seperti keadaan sebenarnya dilapangan. Alat yang terdapat di ruang simulator  diantaranya: ARPHA, sounder, sonar, poanning (kontrol panel kemudi), peta laut, fish finder, GPS, dan air disc (peta elektonik).

  

 

 

 

ini kisah nyata saya, tentang hidup..

udah lama bgt aku gk buka ni blog..baru bisa hari ini akhirnya bisa buka blog..

Well, dimulai dari cerita kuliah..kuliah di perikanan itu kadang ada enaknya,kadang gak ada enaknya. Enaknya bisa ngrasain ngerasain perjuangan ngerjain laporan. Pas pertama kali kuliah di perikanan, yg ada isinya ngeluh mulu karna laporan tiap hari, tapi seiring berjalannya waktu lumayan terbiasa dengan laporan. Tapi ada salah satu mata kuliah yang bikin saya ilfil dari awal mula masuk sini, yaitu makul “renang”. Mungkin bagi kebanyakan orang renang itu gampang, tapi menurut saya “R” disingkat renang itu makul paling saya hindari. gak tau kenapa. 

Pas semster 2 di adainnya makul “r’, udah dipastikan aku gk lulus. Dan ternyata itu pun terbukti. Akhirnya makul “r” aku ambil juga di smster ini. Semester 6. Tapi ya gitu juga, gk lulus pula. Mungkin kesalahan ku ya gk latian sungguh2, beda ma yg lain. Gak tau knpa ilfil bgt ma makul ini. Dan hari ini pun makul itu saya tutup buat taun depan. Biarin deh si ortu marah2, mreka cuman gk ngerti apa yg terjadi.

Ngomongin tentang ortu, berasa kepikiran juga. Sudah 21 tahun aku hidup, gak prnh sekalipun buat mreka bangga. Yang ada di pikiran mereka cuman bandingin ma kakakku. Emang sih dia pinter, cantik, beruntung bgt. Gak kyk aku. Bikin malu, bikin susah aja. Dari kecil ortuku udah ngasih perlakuan beda buat aku ma kakakku. Selalu kakaku yg di duluin. Mreka gk ngerti pa rasanya jadi anak yg diduain gini. 

Soal pendidikan, pacar, kepinteran, selalu di bnding2in. Sampe akhirnya kakakku kuliah lewat jalur PMDK. Lulus cpat 3,5 tahun dari pendidikan S-1 terus langsung diterima PNS, nikah, hidup makmur. Ortu selalu bicara dengan bangga bgt tentang kakakku itu ke semua orang. Keliatan dari omongan mereka yg bangga bgt punya anak kayak kakakku. Coba bandingin dengan aku. Mereka ngeluh mulu tentang aku, anak yg gak bawa rejeki, bikin mau keluarga. Apa aku emang bikin mereka malu terus ya??gak pernah sekalipun mereka bngga ma aku. Tentang prestasiku, tntang kelakuanku. Yang ada di mata mereka aku cuman anak yg bikin susah.

Kalau aja waktu bisa diputer, atau disuruh milih akumilih bukan dilairin disini. Atau mungkin milih bukan lair di keluarga ini. Sebab aku bukan anak yang baik di mata mereka. 

Aku emang bukan kyk kakaku yg bisa sempurna di hadapan orang tuaku, aku sering bgt bilng ini ke mereka, tapi anggapan mereka sama. Aku emang bukan orang yg terbuka tntang masalah ke semua orang. Seperti saat ini, saat banyak bgt masalah yag ada, aku lagi butuh teman. Tapi gk seorangpun peduli ma aku. Apalagi pacarku. ..pengen bgt lepas dari semua beban ini. Bebas, bahagia, disayangin semua orang.. 

bab 4

IV.  HASIL DAN PEMBAHASAN

 

4.1.  Keadaan Umum Lokasi

Pembangunan perikanan di berbagai daerah di Jawa Tengah, termasuk kabupaten Pati dengan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo yang merupakan pusat pendaratan ikan dengan produksi perikanannya yang terbesar di Jawa Tengah telah dilaksanakan dari tahun ke tahun, dimana potensi perikanan dan kelautan telah dimanfaatkan untuk berbagai   macam kegiatan pembangunan.

Peranan sektor perikanan sangat besar dalam pembangunan nasional karena menghasilkan bahan pangan protein hewani yang besar bagi masyarakat, mendorong pertumbuhan produksi dalam negeri melalui penyediaan bahan baku, menghasilkan devisa melalui ekspor hasil perikanan, serta peningkatan pendapatan nelayan, produksi perikanan tersebut seharusnya dapat memenuhi pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat Indonesia (Sajognyo, 2003).

Wilayah Pati yang berbatasan dengan laut, mengandalkan hasil perikanan. Kabupaten ini menjadi salah satu pengahasil ikan laut di Jawa Tengah. Sebanyak 14.917 orang bekerja di sektor ini. Secara astronomi Kabupaten Pati terletak antara 110o50’-111o15’ BT dan 6o25’-7o LS. Pemerintah daerah Kabupaten Pati menyatakan bahwa Kecamatan Juwana merupakan kecamatan di pesisir utara pulau jawa yang terletak di jalur pantura yang menghubungkan Kota Pati dan Kota Rembang. Juwana merupakan kecamatan terbesar kedua di kabupaten Pati setelah kota Pati (Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pati, 2008).

Salah satu kecamatan dari kabupaten Pati yang memiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) yang cukup besar  adalah Kecamatan Juwana. Secara astronomis Kecamatan Juwana terletak pada 111o4’40” BT dan 6o37’30”-6o42’30” LU. Kecamatan Juwana memiliki luas wilayah 5.593 ha (55,93 km2), dengan batas wilayah:

  1.       Sebelah utara berbatasan dengan laut jawa

  2.       Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Batangan

  3.       Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Jakenan dan Kecamatan  Pati

  4.       Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Wedarijaksa

Kabupaten Pati memiliki potensi perikanan laut yang cukup besar. Di Kabupaten Pati terdapat delapan TPI yaitu TPI Bajomulyo I, TPI Bajomulyo II, TPI Pecangaan, TPI Margomulyo, TPI Sambiroto, TPI Alasdowo, TPI Banyutowo, TPI Puncel. TPI Bajomulyo II sebagai salah satu TPI yang ada di Kecamatan Juwana, keberadaannya sangat menunjang bagi perkembangan perikanan laut khususnya bidang penangkapan ikan sebagai tempat bertemu antara produsen (nelayan) dengan konsumen (bakul) untuk mengadakan transaksi jual beli hasil tangkapan ikan segar.

Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo secara geografis terletak antara 111o08’30’’ BT dan 6o42’30’’ LS di Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati dengan panjang pantai 60 kilometer serta berada di sisi Barat sungai Juwana sepanjang 1.346 m dengan luas lahan ± 15 Ha. Kondisi tanah lahan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo adalah lumpur berpasir dan kondisi pantai cukup landai dengan indikasi gerakan sedimen di muara sungai dari arah timur menuju ke arah barat.

Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo merupakan salah satu tempat jual beli ikan hasil tangkapan terbesar di Kabupaten Pati. Lokasi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo di tepi sungai Juwana Yaitu tepatnya di jalan Hang Tuah No. 79 Desa bajomulyo Kecamatan Juwana dengan ketinggian tempat sekitar 2 meter di atas permukaan laut, jarak PPP dari pusat kota Juwana sekitar 3 km, jarak dari ibukota Kabupaten Pati sekitar 15 km, dan jarak dari ibukota Provinsi Jawa Tengah (Semarang) sekitar 89 km. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo terdiri dari dua unit. Unit I untuk melayani KM < 30 GT (Jaring Cantrang, Pancing Mini Long Line, Jaring Cumi) sedangkan Unit II untuk melayani KM > 30 GT (Jaring Purse Seine).

 

4.2. Potensi dan Lahan

Kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo menempati areal seluas ± 4 Ha di pinggiran sungai. Luas kawasan ini dirasa kurang memenuhi tuntutan untuk kegiatan sistem pemerintahan pelabuhan yang terpadu dengan instansi terkait dan untuk kegiatan sistem bisnis masyarakat nelayan ke depan. Kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo mempunyai potensi yang cukup besar untuk dikembangkan di lihat dari jumlah kapal, nelayan, hasil perikanan, masyarakat sekitar dan akses yang memadai. Tetapi ada kelemahan dimana alur sungai yang cukup jauh dari pantai dan pendangkalan sungai yang memprihatinkan.

Kecuali jika kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo juga membuka peluang peningkatan usaha dan kegiatan sistem bisnis lainya. Dibanggunya kios-kios akan membuka peluang bertambahnya jumlah bakul yang secara optimis bisa meningkatkan pemasaran hasil dan produk perikanan.

Lahan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo berstatus milik Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Jawa Tengah yang sekarang masih dalam proses permohonan penyerahan atau mutasi ke Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah.Selanjutnya diharapkan dengan status milik Dinas Perikanan dan Kelautan memberikan kemudahan untuk mengembangkan pelabuhan perikanan pantai.Di harapkan pula lahan pelabuhan akan diperluas untuk mengakomodasi kepentingan pelabuhan yang semakin meningkat.  

Berdasarkan Profil Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo, Visi dari Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo adalah terwujudnya pelabuhan perikanan sebagai Pusat Pengembangan Kelautan dan Perikanan. Dan mempunyai misi yang dilaksanakan guna terwujudnya visi tersebut adalah:

  1. Meningkatkan kualitas pelayanan jasa dan operasional Pelabuhan Perikanan (pelayanan prima)
  2. Melaksanakan system informasi pelabuhan perikanan
  3. Mendukung pertumbuhan dan pengembangan Unit Bisnis Perikanan Terpadu

Kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo, berada di sekitar 15 Km dari pusat kota Pati, lebih tepatnya terletak di desa Bajomulyo Kecamatan Juwana Kabupaten Pati.Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo  teletak di sekitar sungai Juwana dengan luas ± 4 Ha dengan sarana dan prasarana yang tersedia guna melayani dan memberikan fasilitasi usaha bidang kelautan dan perikanan. Kondisi tanah lahan di Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo sebagian besar terdiri dari campuran lumpur dan pasir halus pada aliran sungai Juwana.

Lokasi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo ini dibangun agak jauh dari pusat kota, berada di kawasan sungai dengan perairan yang dalam dan jauh dari gelombang. Area berbagai fasilitas yang luas dan terdapat area pengembangan.

 

4.3.  Potensi Perikanan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo

4.3.1.   Potensi alat tangkap

            Dengan data berbasis TPI di PPP Bajomulyo tercatat jumlah nelayan sebanyak 5,843 orang terdiri dari Pandega = 5.672 orang dan Juragan = 171 orang.  Sedangkan jumlah bakul ikan sebanyak 280 orang.  Secara keseluruhan jumlah tenaga kerja yang terserap sebanyak 6.123 orang.

Alat tangkap yang banyak di operasikan di kawasan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo adalah purse seine, cantrang, jaring cumi, bottom long line, mini purse seine, kapal pengangkut. Jumlah alat tangkap yang dioperasikan sebanyak 2.988 unit dengan jumlah armada penangkapan ikan yang sebanyak Kapal Motor Sebanyak 594 unit dan Motor Tempel sebanyak 2.394.  Hasil tangkapan yang di dapatkan antara lain tongkol, layang, jui, bawal, manyung,cucut, kakap merah, cumi, dan lain-lain. Data kapal perikanan dan alat tangkap di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo pada tahun 2011 tersaji pada tabel 2.

Tabel 2. Tabel data kapal dan alat tangkap di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo tahun 2011

No.

Nama                               

Jumlah

1.

Kapal Perikanan

594 unit

2.

Purse seine

185 unit

3.

Cantrang

676 unit

4.

Jaring cumi

200  unit

Lanjutan Tabel 2. Tabel data kapal dan alat tangkap di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo tahun 2011

No.

Nama                               

Jumlah

5.

Bottom long line

389  unit

6.

Kapal pengangkut

115 unit

Sumber: Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo, 2012.

4.3.2.   Jumlah hasil tangkapan

   Data perikanan produksi dan raman Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo tersaji pada tabel 3.

Tabel 3. Produksi  Hasil Tangkapan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo tahun 2011

No.

Bulan

Produksi

Unit I.

(kg)

Produksi

Unit II

(kg)

Raman

Unit I

(Rp)

Raman

Unit II

(Rp)

1.

Januari

410.176

622.410

1.756.000.000

5.752.145.000

2.

Febuari

497.180

1.234.794

1.446.000.000

12.820.335.000

3.

Maret

621.440

1.400.088

1.926.000.000

12.820.335.000

4.

April

836.916

1.860.276

2.271.000.000

19.162.640.000

5.

Mei

934.072

1.559.695

2.656.000.000

16.379.595.000

6.

Juni

840.946

1.235.460

2.083.000.000

12.253.120.000

7.

Juli

1.001.300

2.011.901

2.350.750.000

14.301.601.000

8.

Agustus

1.297.926

3.310.760

3.039.000.000

16.147.810.000

9.

September

253.516

2.033.102

481.000.000

11.452.170.000

10.

Oktober

1.162.530

4.815.732

2.511.000.000

24.038.040.000

11.

November

1.237.112

4.450.066

2.852.000.000

15.969.140.000

12.

Desember

1.083.943

3.671.438

2.395.000.000

15.680.475.000

 

Jumlah

10.177.057

28.205.722

25.766.750.000

176.226.440.000

Sumber: Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo, 2012.

 

 

 

 

 

4.4. Fasilitas-Fasilitas di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo Juwana

 

4.4.1.  Fasilitas pokok

Fasilitas pokok merupakan fasilitas utama dalam suatu pelabuhan perikanan yang sangat menunjang kebutuhan operasional pelabuhan dan juga merupakan fasilitas yang diperlukan kapal untuk berlayar keluar masuk pelabuhan secara aman dan merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal perikanan. Fasilitas pokok yang dimiliki Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo unit I tersaji pada tabel 4.

Tabel 4.    Fasilitas pokok yang dimiliki oleh Pelabuhan Perikanan Pantai  (PPP)  Bajomulyo unit I

No.

Nama Fasilitas

Ukuran

Satuan

Kondisi

1.

Kedalaman alur

10

m

Baik

2.

Lebar alur

80

m

Baik

3.

Panjang dermaga

1296

m2

Baik

4.

Dermaga kayu

264

m2

Baik

5.

Tanah

7500

m2

Baik

Sumber : Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo, 2012.

          Fasilitas pokok yang dimiliki Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo  unit II tersaji pada tabel 5.

Tabel 5.  Fasilitas pokok yang dimiliki oleh Pelabuhan Perikanan Pantai  (PPP) Bajomulyo unit II

No.

Nama Fasilitas

Ukuran

Satuan

Kondisi

1.

Kedalaman alur

10

m

Baik

2.

Lebar alur

80

m

Baik

3.

Panjang dermaga

1296

m2

Baik

4.

Dermaga kayu

256

m2

Baik

5.

Luas lahan

4

Ha

Baik

Sumber : Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo, 2012.

 

  1. Dermaga (Quay)

Dermaga adalah fasilitas pelabuhan yang mempunyai fungsi sangat komplek sehingga dalam kegiatan desain aspek-aspek yang lebih luas harus diperhatikan. Pada Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo pada unit I memiliki panjang dermaga dengan luas 1290 m2 dengan luas dermaga kayu sebesar 264 m2. Sedangkan pada Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo pada unit II memiliki panjang dermaga 256 m dengan luas lahan 4 hektar.

Kondisi dermaga di Pelabuhan Perikanan Pantai  (PPP) Bajomulyo bisa dikatakan baik dan berfungsi dengan optimal. Mampu menampung jumlah kapal  sekurang-kurangnya 30 GT dan daya tampung kapal 75 kapal perikanan, sesuai dengan ketentuan peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor Per.16/Men/2006.

  1. Alur pelayaran

Alur pelayaran adalah perairan yang dari segi kedalaman, lebar, dan bebas hambatan pelayaran lainnya dianggap aman dan selamat untuk dilayari oleh kapal di laut, sungai atau danau.Alur pelayaran dicantumkan dalam peta laut dan buku petunjuk-pelayaran serta diumumkan oleh instansi yang berwenang. Alur pelayaran digunakan untuk mengarahkan kapal masuk ke kolam pelabuhan, oleh karena itu harus melalui suatu perairan yang tenang terhadap gelombang dan arus yang tidak terlalu kuat.

Berdasarkan hasil studi yang di lakukan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo diperoleh data yang berkaitan dengan alur pelayaran sebagai berikut:

  • Kedalaman alur           : 10 meter
  • Lebar alur                    : 80 meter

Sumber: Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo Kab Pati, 2012.

4.4.2.   Fasilitas fungsional

Fasilitas fungsional merupakan fasilitas yang berfungsi untuk meningkatkan nilai guna dari fasilitas dasar, tanpa adanya fasilitas fungsional kegiatan operasional pelabuhan perikanan seperti bongkar muat, perasi kapal-kapal nelayan, penanganan hasil tangkapan, dan lain-lain tidak dapat berjalan dengan baik. . Fasilitas fungsional yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo dibagi menjadi dua bagian, yaitu fasilitas fungsional yang dimiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit I dan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit II.

Fasilitas yang dimiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit I tersaji pada tabel 6.

Tabel 6.  Fasilitas fungsional yang dimiliki oleh Pelabuhan Perikanan Pantai  (PPP) Bajomulyo Unit I

No.

Nama Fasilitas

Ukuran

Satuan

Kondisi

1.

Tanah TPI

75.000

m2

Baik

2.

Lantai TPI       

2.200

m2

Baik

3.

Instalasi listrik

20

KVA

Baik

4.

Genset

10

KVA

Baik

5.

Instalasi air bersih

-

PDAM

Baik

6.

Tower 12 m2

2

unit

Baik

7.

Ground Reservoar 24m2

2

unit

Baik

8.

SPBB

1

unit

Baik

9.

SPDN

1

unit

Baik

10.

Sound sistem pelelangan

1

unit

Baik

11.

Handling Space/ pengolahan

800

m2

Baik

Fasilitas yang dimiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit II tersaji pada tabel 7.

Tabel 7 .  Fasilitas fungsional yang dimiliki oleh Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit II

No.

Nama Fasilitas

Ukuran

Satuan

Kondisi

1.

Gedung TPI

2880

m2

Baik

2.

Kantor TPI

650

m2

Baik

3.

Instalasi listrik

23

KVA

Baik

4.

Genset

30

KVA

Baik

5.

Instalasi air bersih

-

PAM

Baik

6.

Tower

1

unit

Baik

7.

Reservoir 30 m2

3

unit

Baik

8.

Pondok Boro Nelayan

280

m2

Baik

9.

SPDN

1

unit

Baik

10.

Cool storage

600

m2

Baik

11.

Lantai penumpukan ikan

70

unit

Baik

Sumber : Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo, 2012.

  1. Gedung dan Kantor TPI

Kantor gedung administrasi pelabuhan mempunyai luas 650 m2. Fungsi dari kantor administrasi pelabuhan adalah unuk memberikan pelayanan bagi masyarakat terutama adalah masyarakat nelayan. Selain itu fungsi dari kantor administrasi adalah tempat rapat bagi para pegawai. Sedangkan gedung TPI mempunyai luas 2880 m2 yang digunakan untuk tempat pelelangan hasil tangkapan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo.

b.   Instalasi Listrik

Instalasi listrik yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo adalah sebanyak 1 unit dengan daya listrik sebesar 23 KVA.

 

c.   Menara air

Menara air yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo berasal dari sumur artesis yang di alirkan melalui pipa-pipa menuju ke atas menara dan di alirkan ke kantor-kantor.

d.   Air Bersih

Fasilitas air bersih yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo terdiri dari PDAM dan artesis pada menara air.Fungsi dari adanya fasilitas air bersih adalah memberikan pelayanan kepada kapal-kapal sebelum melaut.

e.   Mekanikal dan elektrikal

Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo memiliki 1 unit genset pada kantor administrasi yang di gunakan untuk mekanikal dan elektrikal dengan daya 30 KVA.

  1. Pondok boro nelayan

Pondok boro nelayan ini digunakan oleh nelayan untuk memperbaiki jaringnya yang rusak, putus dan perlu perbaikan. Pondok boro nelayan yang dimiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo mempunyai luas 280 meter dan dalam keadaan baik. Para nelayan biasanya mengisi waktu luang mereka untuk melakukan perbaikan jaring di tempat ini, selain itu juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk bersantai dan mengobrol dengan sesama.

  1. Tempat jemuran ikan

Tempat jemuran ikan digunakan untuk menjemur ikan yang akan dilakukan pengolahan. Ikan yang dijemur biasanya berupa ikan yang telah dibekukan di dalam cold storage. Agar ikan yang beku dapat segera diolah, maka dilakukan penjemuran secara manual yaitu dengan memanfaatkan sinar matahari. Ikan yang telah dijemur ini biasanya adalah ikan yang akan diolah menjadi pindang. Tempat jemuran ikan yang dimiliki oleh Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo seluas 70 m2.

h.  SPDN

Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo memiliki SPDN dan sebanyak 1 unit.

i.   Cold storage

Pabrik es (cold storage) yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo sejumlah 1 unit dengan luas 600m2 masih dapat di manfaatkan tapi belum banyak yang menggunakan cold storage ini.

4.4.3.   Fasilitas penunjang

Fasilitas penunjang adalah sarana yang secara tidak langsung dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan dan memberikan kemudahan bagi masyarakat umum.

Fasilitas yang dimiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit I tersaji pada tabel 6.

Tabel 6.  Fasilitas penunjang  yang  dimiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit I

No.

Nama Fasilitas

Ukuran

Satuan

Kondisi

1.

Areal parkir

1600

m2

Baik

2.

MCK

150

m2

Baik

4.

Gedung fillet

1122

m2

Baik

5.

Mushola

60

m2

Baik

6.

Ruang genset

12

m2

Baik

7.

Pagar

250

m2

Baik

  8.

Kantor PPI

800

m2

Baik

Lanjutan Tabel 6. Fasilitas penunjang  yang  dimiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit I

No.

Nama Fasilitas

Ukuran

Satuan

Kondisi

10.

Gedung basket

180

m2

Baik

11.

Kantor UPBI

60

m2

Baik

12.

Cool storage

200

m2

Baik

Sumber : Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo, 2012.

Fasilitas yang dimiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit II tersaji pada tabel 7.

Tabel 7.  Fasilitas penunjang  yang  dimiliki Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit II

No.

Nama Fasilitas

Ukuran

Satuan

Kondisi

1.

Areal parkir

2500

m2

Baik

2.

MCK

1

unit

Baik

4.

Gedung pengepakan

400

m2

Baik

5.

Gedung pasar bangsal

400

m2

Baik

6.

Gedung basket

232

m2

Baik

7.

Kantor AIRUD

1

unit

Baik

  8.

Lampu penerangan

14

unit

Baik

  9.

Kios perdagangan umum

20

unit

Baik

10.

Pagar bangunan lelang

168

m2

Baik

11.

SSB Pos jaga

1

unit

Baik

12.

Satker Pengawas PSDKP

1

unit

Baik

Sumber : Pelabuhan Perikanan Pantai  (PPP) Bajomulyo, 2012.

a.  Areal Parkir

Tempat parkir yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo seluas 2500m2 .

  1. MCK

MCK yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo sebanyak 1 unit dan dalam keadaan yg baik.

  1. Jalan masuk kawasan

Jalan masuk kawasan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo seluruhnya terbuat dari beton aspal

  1. Pagar keliling

Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo di kelilingi pagar tembok yang fungsinya sebagai sarana keamanan.

  1. Kantor Polair

Kantor Polair yang ada pada Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo seluas 40m2 m. 

f. Kantor Syahbandar

Kantor Syahbandar yang ada pada Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo seluas 45m2 dalam kondisi baik

  1. Mushola

Musholla terletak agak jauh dari kantor administrasi pelabuhan. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo memiliki 1 unit musholla dengan luas kurang lebih 100m2.

 

4.5.            Peranan dan Fungsi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo

4.5.1.   Fungsi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo Juwana

   Berdasarkan Undang-undang Perikanan No. 45 tahun 2009 ayat 41 A pasal 1, disebutkan bahwa Pelabuhan perikanan mempunyai fungsi pemerintahan dan pengusahaan guna mendukung kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran. Adapun fungsi Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo sebagai berikut:

  1. Penyusunan rencana teknis operasional tata pengusahaan, tata pelayanan dan kesyahbandaran pelabuhan perikanan pantai;
  2. Pelaksanaan kebijakan teknis operasioanl tata pengusahaan, tata pelayanan dan kesyahbandaran pelabuhan perikanan pantai;.
  3. Pemantauan evaluasi dan pelaporan kegiaan pelabuhan perikanan pantai;
  4. Pengelolaan ketatausahaan; dan
  5. Pelaksanaan tugas lain yang diberikan oleh Kepala Dinas sesuai tugas dan fungsinya.

Secara umum Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo Juwana telah melaksanakan fungsi sebagai Pelabuhan Perikanan Pantai sesuai dengan yang telah di tetapkan pada UU No.45 tahun 2009 tentang Perikanan. Untuk fungsi pelayanan tambat dan labuh kapal perikanan dan juga bongkar muat ikan sudah dilaksanakan dengan baik, dapat dilihat bahwa setiap tahun mengalami peningkatan kunjungan kapal. Hal ini menunjukkan bahwa kapal-kapal yang tambat dan labuh serta bongkar muat ikan merasa puas dengan pelayanan serta fasilitas yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo Juwana.

Selain itu juga dapat dilihat dari aktivitas yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo Juwana, yang meliputi aktivitas pelaksanaan operasi penangkapan ikan, pelelangan, pengolahan ikan, pemasaran ikan, pelaksanaan kesyahbandaran, pengumpulan data hasil tangkapan, semuanya telah dilaksanakan dengan baik. Berdasarkan hasil pengamatan yang telah saya lakukan, segala aktivitas pelabuhan perikanan telah berjalan sesuai dengan peruntukkannya.

Permasalahan yang dialami Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo adalah karena fasilitas yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo banyak yang sudah rusak, sehingga meskipun semua kegiatan mulai dari pra produksi, produksi serta pemasaran telah terlaksana dengan baik, akan tetapi tingkat pemanfaatannya atau pengelolaannya yang masih kurang dimanfaatkan oleh para nelayan.Dapat dilihat bahwa beberapa fasilitas yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo masih ada yang belum dapat dimanfaatkan dengan optimal.

4.5.2.      Peran Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo Juwana

Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo yang dibentuk berdasarkan Peraturan Daerah Oropinsi Jawa Tengah Nomor 38 tahun 2008, merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Jawa Tengah , bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Jawa Tengah. Tugas pokoknya adalah melaksanakan sebagian kegiatan teknis operasional dan kegiatan teknis penunjang Dinas perikanan dan Kelautan Propinsi Jawa Tengah di bidang pengelolaan Pelabuhan Perikanan Pantai.

          Visi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo yaitu sebagai terwujudnya pelabuhn perikanan yang tertib, tertata, berdaya saling tinggi dan sebagai sumber penghidupan bagi masyarakat nelayan. Misi Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo yaitu meningkatkan kemampuan SDM, mewujudkn pelayanan kepelabuhan yang optimal bagi masyarakat nelayan, dan meningkatkan iklim usaha yang kondusif.

Sebagai pusat aktivitas distribusi,Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo Juwana juga merupakan Pelabuhan yang yang cukup besar dan banyak sekali terdapat bakul-bakul besar, sehingga ikan hsil tangkapan dapat dilakukan pelelangan dan di distribusikan. Lokasi pendistribusian tidak hanya di wilayah Kabupaten Pati saja, akan tetapi sampai ke daerah Semarang,Rembang dan Demak.

Peran Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo Juwana sebagai pusat kegiatan masyarakat nelayan juga dapat dilihat dari seluruh aktivitas di Pelabuhan Perikanan, yaitu terdapat kegiatan operasi penangkapan, kegiatan pelelangan, perbaikan jaring, pengolahan ikan yang meliputi pemindangan dan pengasapan ikan, serta kegiatan nelayan yang lainnya.

 

4.6.            Peningkatan dan Pengembangan Sarana dan Prasarana Pelabuhan dan   Output Produksi Perikanan

4.6.1.      Kebijakan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo

Disamping peranan dan fungsinya, Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo juga memiliki tugas sebagai sentra pengembangan ekonomi pesisir yang mana diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap perekonomian masyarakat setempat. Dampak nyata dari kehadiran Pelabuhan Perikanan ini sangat berkontribusi terhadap masyarakat juga Pendapatan Asli Daerah, demi menjaga terkendalinya sumberdaya perikanan dan kelautan yang lestari, Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo menetapkan kebijakan sebagai regulasi dan perundang –undangan, adapun kebijakan tersebut yaitu :

  1. Undang undang nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan.
  2. Peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah nomor 62 tahun 2002 tentang tarif atas jenis Penerimaan Negara bukan pajak yang berlaku pada Departemen Kelautan dan Perikanan.
  3. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor PER.02/MEN/2006 tentang Organisasi dan tata kerja Pelabuhan Perikanan.
  4. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan no. PER.16/MEN/2006 tentang Usaha Perikanan Tangkap.
  5. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor PER.16/MEN/2006 tentang Pelabuhan Perikanan.
  6. Keputusan menteri Kelautan dan Perikanan nomor KEP.02/MEN/2002 tentang Pedoman Pelaksana Pengawasan Penangkapan ikan.
  7. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor KEP.03/MEN/2002 tentang Log Book Penangkapan dan Pengangkutan Ikan
  8. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor KEP.11/MEN/2004 tentang Pelabuhan Pangkalan bagi Kapal Perikanan
  9. Peraturan Daerah Provinsi Jawa Tengah Nomor 6 Tahun 2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Dinas Provinsi Jawa Tengah
  10. Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 38 tahun 2008 tentang Organisasi dan Tata kerja Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah

4.6.2.      Strategi kebijakan Pelabuhan Perikanan  Pantai (PPP) Bajomulyo

Kedepan Pelabuhan Perikanan Bajomulyo diproyeksikan berganti menjadi Pelabuhan Perikanan Nusantara, berbagai aspek dilihat dari banyaknya kapal yang berlabuh seta melakukan bongkar muat, besaran GT kapal yang melebihi 30 GT, fasilitas pelabuhan, jumlah hasil tangkapan yang banyak juga jumlah peredaran uang secara keseluruhan setiap harinya. Dirsa perlu untuk berganti menjadi sebuah Pelabuhan Perikanan Nusantara, untuk memujudkan hal itu Pelabuhan Perikanan Bajomulyo menerapkan strategi kebijakan sebagai berikut:

  1. Meningkatkan pemanfaatan sumberdaya perikanan secara optimal serta bertanggung jawab.
  2. Meningkatkan kesempatan kerja dan bisnis seluas – luasnya.
  3. Meningkatkan kualitas sumberdaya manusia dibidang Perikanan.
  4. Meningkatkan kegiatan pelayanan bisnis Perikanan.
  5. Meningkatkan pengawasan dan pengendalian pemanfaatan sumberdaya Kelautan dan Perikanan.
  6. Meningkatkan pendapatan asli daerah dan penerimaan Negara bukan pajak.

 

4.7.       Tingkat Pengelolaan Fasilitas di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo

          Dalam pengelolaan fasilitas di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo ini terdapat beberapa sistem pengelolaan, yaitu:

  1. kondisi fasilitas

Berdasarkan hasil pengamatan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit I, kondisi fasilitas di pelabuhan ini masih belum sesuai dengan kebutuhan nelayan. Seperti sarana infrasktruktur yang masih belum optimal mulai dari lantai dermaga, halaman parkir ,saluran air, dan jalan yang masih kurang layak.  Padahal kebutuhan nelayan akan sarana ini sangat penting guna menunjang peningkatan mutu.

Hasil pengamatan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit II, kondisi fasilitas di pelabuhan ini belum mencukupi. Seharusnya di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit II dibuat  kolam pelabuhan. Tahun depan direncanakan akan dibuat kolam pelabuhan agar dapat menampung jumlah kapal lebih banyak. Kolam pelabuhan juga berfungsi sebagai tempat penampung kelebihan kapal yang tambat yang maksimal hanya 14 buah kapal. Fasilitas yang akan ditambahkan di tahun ini yaitu akan dibuat pagar lelang, dimana dengan adanya pagar lelang ini maka yang berada di tempat lelang hanya bakul, nelayan, dan pengurus juru lelang.

  1. alur pelayaran

Alur pelayaran di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo  berbeda dengan alur pelayaran di pelabuhan perikanan lainnya. Daerah pelabuhan Juwana yang dikelilingi oleh sungai, menyebabkan sering terjadinya pendangkalan di daerah ini.  Pendangkalan ini berpengaruh terhadap proses tambatnya kapal. Bila terjadi pendangkalan, kapal akan sulit tambat sebab mereka menunggu pasang agar bisa menambatkan kapalnya. Untuk itu, maka setiap tahun rutin diadakan pengerukan untuk mengantisipasi bila ada pendangkalan sungai yaitu 2 kali.

 Menurut Dinas Perhubungan Pelabuhan Juwana (2012), alokasi dana untuk setiap satu kali pengerukan yaitu 5- 11 milyar rupiah. Banyaknya dana yang dikeluarkan berkaitan dengan volume tanah yang dikeruk. Dana tersebut berasal dari APBN yang harus diusulkan ke pusat atas ijin Pemda kabupaten Pati. Setiap sekali pengerukan membutuhkan waktu sekitar 3 bulan untuk mengeruk daerah yang mengalami pendangkalan yang berjarak 6 km.

 

  1. sistem pengelolaan hasil tangkapan

Sistem pengelolaan hasil tangkapan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo  unit I yaitu sebagian besar hasil tangkapan langsung diproses untuk ikan panggang, ikan asin, atau dikirim ke luar. Dikarenakan dengan semakin banyaknya perusahaan pengolahan ikan, maka di tahun 2012 awal ini Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo  unit I mendirikan gedung fillet yang memiliki lahan sebesar 1122 m2. Gedung tersebut diresmikan pada pertengahan bulan Januari. Gedung fillet ini didirikan oleh Paguyuban Pengolahan Ikan yang terdiri dari 10 orang pengusaha dengan jumlah karyawan berjumlah sekitar 500 orang. Gedung ini menggunakan sistem sewa. Sistem ini mengenakan tarif Rp. 7.500,-/m2  yang dialokasikan Rp. 2.500,- untuk DKP kabupaten Pati kemudian Rp. 5.000,-  untuk  dana kebersihan,listrik, atau jika ada gedung yang mengalamai kerusakan.

Sistem pengelolaan hasil tangkapan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo  unit II ini sebagian besar hasil tangkapan di olah oleh bakul untuk dijadikan ikan pindang. Ada juga ikan hasil tangkapan di ekspor ke luar negeri.

  1. prosedur lelang

Proses lelang di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo  unit I berbeda dengan proses lelang di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo  unit II. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo  unit I memakai sistem lelang terbatas. Lelang terbatas disini yaitu tidak adanya proses tawar menawar hasil tangkapan. Nelayan dan bakul mengadakan proses lelang sendiri dengan memakai hitungan timbangan yang jauh lebih akurat dibandingkan model basketan yang jumlahnya hanya perkiraan. Adanya sistem lelang ini juga terkait dengan susahnya proses pembayaran yang dilakukan oleh bakul. Kebanyakan bakul memakai sistem pembayaran di akhir ketika olahan ikan mereka telah laku. Pembayaran sistem ini membuat uang untuk nelayan menjadi terhambat.

Proses lelang di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo  unit II memakai sistem lelang. Lelang ini dimulai setiap hari mulai pukul 08.30 WIB sampai selese tergantung banyaknya kapal yang datang. Bila kapal yang tambat lebih dari 14 buah, maka kapal yang lain harus menunggu antrian untuk lelang. Bila harga kurang mendukung, makan proses lelang di lanjutkan keesokan paginya.

Proses lelang di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo  unit II dimulai dari kapal yang melaporkan ke pos satpam untuk meminta nomor urut tambat, kemudian pengurus kapal meminjam basket di KUD dan baru boleh mendaratkan ikannya. Setelah itu, pengurus kapal lapor ke juru lelang. Proses lelang dilakukan oleh juru lelang yang diawasi oleh petugas pelabuhan. Hasil lelang dibagi dalam 2 bagian, yaitu lelang ikan es dengan lelang ikan asinan. Ikan es yang dimaksud adalah ikan segar yang biasanya berasal dari kapal pengangkut. Ikan asinan ini yaitu ikan yang biasanya berasal dari kapal purse seine yang belayar lebih dari 2 minggu. Para bakul menandai lelangan mereka dengan memakai karcis lelang yang dibuat sendiri. Biasanya 1 basket berisi 25- 30 kg dan proses lelang min 6 basket.

  1. mekanisme keluar masuknya kapal

Mekanisme keluar masuknya kapal pada Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo  unit I dan unit II sama. Sistem masuknya kapal dimulai dari kapal yang tambat harus melaporkan ke petugas Pos Satpam untuk mengambil nomor tambat. Setelah mengambil, pengurus menyewa basket maksimal 600 basket.

Proses keluarnya kapal atau pada saat kapal akan berangkat dimulai dengan kapal harus melapor ke syahbandar terdekat utnuk memperoleh surat SIB (Surat Ijin Berlayar, SLO (Surat Laik Operasi), dan SPB (Surat Persetujuan Berlayar). Bila surat sudah diperoleh, maka kapal baru bisa berlayar.

  1.    pengelolaan alur kesyahbandaran

Pengelolaan kesyahbandaran di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo  yaitu sama dengan pengelolaan kesyahbandaran di Pelabuhan Perikanan lainnya. Kapal yang akan berangkat harus melengkapi syarat- syarat yang telah ditetapkan oleh Syahbandar Perikanan setempat. Surat- surat yang harus dimiliki kapal perikanan yaitu SIUP, SIPI, SIKPI, dan Pas Tahunan. Pengawas akan mengecek kelengkapan dan keaslian dokumen. Selain dokumen, pemeriksaan fisik juga sangat penting.

Pemeriksaan fisik ini berkaitan dengan ukuran kapal (GT), mesin kapal, alat tangkap dan lain sebagainya. Kapal yang sudah melengkapi surat dan kelengkapan dokumen akan diberikan SLO (Surat Laik Operasional) dari pengawas Perikanan. Kapal yang telah memperoleh SLO berhak mendapatkan Surat Ijin Berlayar (SIB) yang dikeluarkan oleh Syahbandar. Surat Laik Operasional (SLO) dan Surat Ijin Berlayar (SIB) dikeluarkan setiap kapal akan berlayar. Surat ini digunakan maksimal 2 hari.

            Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo memiliki Satuan Kerja Pengawas Perikanan (Satker PSDKP). Fungsi Satker disini yaitu mengawasi kapal yang berkaitan dengan dokumen kapal maupun mengadakan patroli di laut. Satker di Pelabuhan Perikanan Juwana ini membawahi 7 pos yaitu Pos Demak, Pos Jepara, Pos Karimun, Pos Puncel, Pos Rembang, Pos Kragan, dan Pos Sarang.

  1. pengelolaan retribusi

          Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit I memiliki sistem retribusi 2,85 %. Retribusi ini dibagi menjadi dua yaitu untuk nelayan sebesar 1,71 % dan bakul sebesar 1,14%. Hasil retribusi ini diserahkan kepada kasir pelabuhan yang selanjutnya masuk ke dana Pemda kabupaten Pati.

 

 

 

 


bab II

II.  TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1.        Pengertian Pelabuhan Perikanan

          Arti pelabuhan menurut Ensiklopedia Indonesia adalah tempat kapal berlabuh (membuang sauh). Pelabuhan yang modern dilengkapi dengan los-los dan gudang-gudang serta pangkalan, dok dan kran (crane) untuk membongkar dan memuat barang-barang. Untuk melindungi kapal-kapal dari terpaan angin dan gelombang besar. Pelabuhan tersebut dapat dilengkapi dengan bangunan penahan gelombang yang menjulur ke laut (Murdiyanto, 2004).

Menurut Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 16 tahun 2006 tentang pelabuhan perikanan, pelabuhan perikanan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintah dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang dipergunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh dan atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan egiatan penunjang perikanan.      

       Di sektor kelautan dan perikanan terdapat kegiatan pemanfaatan sumberdaya perikanan yang memerlukan adanya fasilitas pendaratan ikan atau pelabuhan yang khusus melayani aktifitas industri dan perdagangan ikan. Umumnya yang dilayani adalah kegiatan perikanan tangkap di laut. Dalam hal ini maka pelabuhan yang khusus melayani kegiatan perikanan merupakan fasilitas pendaratan yang menjadi pangkalan bagi kapal-kapal perikanan dan menjadi terminal yang menghubungkan kegiatan perikanan di darat dan di laut (Ditjenkan, 1994).

Pelabuhan adalah daerah perairan yang terlidung dari gelombang yang dilengkapi dengan fasilitas terminal laut yang meliputi dermaga dimana kapal dapat bertambat untuk melakukan bongkar muat barang dan sebagai tempat penyimpanan untuk menunggu keberangkatan berikutnya (Triadmojo, 1996).

Menurut Bagakali (2000),  mendefinisiskan pelabuhan adalah pelabuhan yang secara khusus menampung kegiatan masyarakat perikanan baik dilihat dari aspek produksi, pengolahan maupun aspek pemasarannya. Selain memberikan perlindungan bagi kapal-kapal perikanan yang mengisi bahan bakar, mendaratkan ikan maupun yang berlabuh, melayani penanganan dan pemprosesan hasil tangkapan serta tata niaganya. Pelabuhan perikanan harus pula dapat melayani kebutuhan nelayan untuk beristirahat atau melakukan kegiatan sosial lainnya di daratan.

            Berbeda dengan pelabuhan niaga umumnya pelabuhan perikanan mempunyai ciri-ciri khusus yaitu bahwa selain memiliki fasilitas-fasilitas pokok seperti breakwater atau penahan gelombang, jetty atau dermaga dan ‘basin’ atau kolam pelabuhan dan fasilitas fungsional yang umum seperti gedung perkantoran, bengkel, gudang, tempat parkir, jalan raya, dan sebagainya. Harus pula dilengkapi dengan fasilitas yang mutlak dibutuhkan untuk menunjang kelancaran aktivitas usaha perikanan tersebut seperti misalnya tempat pendaratan, pelelangan ikan, pabrik es (Satria, 2002).

            Menurut Direktorat Jendral Perikanan (1996), mendefinisikan pelabuhan perikanan sebagai tempat pelayanan umum bagi masyarakat nelayan dan usaha perikanan, sebagai pusat pembinaan dan peningkatan kegiatan ekonomi perikanan yang dilengkapi dengan fasilitas di darat dan di perairan sekitarnya untuk digunakan sebagai pangkalan operasional tempat berlabuh, bertambat, mendaratkan hasil, penanganan pengolahan, distribusi dan pemasaran hasil perikanan.

            Menurut Lubis (2000), menjelaskan bahwa fungsi pelabuhan perikanan adalah sebagai pusat pengembangan masyarakat nelayan serta agrobisnis perikanan, tempat berlabuhnya kapal perikanan, tempat pendaratan ikan hasil tangkapan, sebagai pusat untuk memperlancar kegiatan dan perbaikan kapal perikanan serta pemasaran dan distribusi ikan hasil tangkapan, pusat pengembangan industri dan pelayanan ekspor perikanan serta pusat penyuluhan dan pengumpulan data.

 

2.2.    Keadaan Umum Pelabuhan Perikanan

          Pelabuhan perikanan ideal harus mempunyai sifat dan fasilitas-fasilitas sehingga pelabuhan tersebut dapat berfungsi dengan baik.Beberapa sifat alami harus dimiliki agar pembangunan pelabuhan dapat dilakukan dengan biaya yang relatif kecil. Menurut Elfandi (1994), pelabuhan perikanan yang ideal memiliki karakteristik sebagai berikut:

a. jarak tidak terlalu jauh dari fishing ground;

b. lokasi berhubungan dengan daerah pemasaran ikan;

c. memiliki daerah yang luas untuk pendaratan ikan dan industri penunjang           lainnya;

d. tempatnya menarik untuk tempat tinggal nelayan, penjual ikan dan         pengusaha ikan;

e. aman dalam segala cuaca; 

f. aman secara alami dan buatan bagi kapal yang berlabuh dari segala cuaca           waktu;

g. biaya masuk akal untuk mendapatkan kedalaman air yang memadai pada           alur pelabuhan dan pangkalan pelabuhan;

h. biaya untuk pengerukan pelabuhan murah;

i.   daerah cocok untuk membangun pemecah gelombang, pangkalan            pelabuhan, dan sarana di pantai menjadi satu unit yang disesuaikan dengan     perencanaan terpadu; dan

j.   daerah luas sehingga tidak menyulitkan pengembangan pelabuhan.

 

2.3.    Fasilitas Pelabuhan Perikanan

          Menurut Lubis (2000), di dalam pelaksanaannya fungsi dan peranannya, pelabuhan perikanan dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Kapasitas dan jenis fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana yang ada pada umumnya akan menentukan skala atau tipe dari suatu pelabuhan dan akan berkaitan pula dengan skala usaha perikanannya. Fasilitas-fasilitas yang terdapat di Pelabuhan Perikanan atau di Pangkalan Pendaratan Ikan pada umumnya terdiri atas fasilitas pokok, fasilitas fungsional, dan fasilitas tambahan/ penunjang.

          Pelabuhan perikanan pada hakekatnya merupakan prasarana ekonomi perikanan yang dibangun dengan maksud tercapainya tujuan pembangunan perikanan, karena pelabuhan perikanan berperan penting dan strategis dalam menunjang peningkatan produksi perikanan, memperlancar arus lalu lintas kapal perikanan, mendorong pertumbuhan perekonomian masyarakat perikanan, serta mempercepat pelayanan terhadap seluruh kegiatan yang bergerak dibidang usaha perikanan (Oktavariza et. all, 1996).

          Menurut Permen No.16 Tahun 2006, fasilitas pada pelabuhan perikanan meliputi:

  1. Fasilitas pokok, meliputi:

a. pelindung seperti breakwater, revetment, dan groin  dalam hal secara teknis

diperlukan;

b. tambat seperti dermaga dan jetty;

c. perairan seperti kolam dan alur pelayaran;

d. penghubung seperti jalan, drainase, gorong-gorong, jembatan; dan

e. lahan pelabuhan perikanan.

2. Fasilitas fungsional, meliputi:

a. pemasaran hasil perikanan seperti tempat pelelangan ikan (TPI);

b. navigasi pelayaran dan komunikasi seperti telepon,  internet, SSB, rambu rambu, lampu suar, dan menara pengawas;

c. suplai air bersih, es dan listrik;

d. pemeliharaan kapal dan alat penangkap ikan seperti dock/slipway, bengkel dan

tempat perbaikan jaring;

e. penanganan dan pengolahan hasil perikanan seperti transit sheed dan

laboratorium pembinaan mutu;

f. perkantoran seperti kantor administrasi pelabuhan;

g. transportasi seperti alat-alat angkut ikan dan es; dan

h. pengolahan limbah seperti IPAL.

 

3. Fasilitas penunjang, meliputi: 

a. pembinaan nelayan seperti balai pertemuan nelayan;

b. pengelola pelabuhan seperti mess operator, pos jaga, dan pos pelayanan

terpadu;

c. sosial dan umum seperti tempat peribadatan dan MCK;

d. kios IPTEK; dan

e. penyelenggaraan fungsi pemerintahan.

2.3.1.  Fasilitas pokok

Menurut Lubis (2000), fasilitas pokok adalah fasilitas yang diperlukan untuk kepentingan aspek keselamatan pelayaran dan juga tempat berlabuh, bertambat serta bongkar muat. Fasilitas pokok yang harus dimiliki oleh pelabuhan antara lain terdiri dari:

1.  Dermaga

Dermaga adalah suatu bangunan kelautan yang berfungsi sebagai tempat labuh dan bertambatnya kapal, bongkar muat hasil tangkapan dan mengisi bahan perbekalan untuk keperluan menangkap ikan di laut. Bila ditinjau dari bentuk dan dimensinya, dermaga ini bisa disebut wharf, pier, dan bulkhead, atau dalam terminologi Eropa sering disebut quay, yetty, ataupun quay-wall.

2.  Kolam pelabuhan

Kolam pelabuhan adalah daerah perairan pelabuhan untuk masuknya kapal yang akan bersandar di dermaga. Kolam pelabuhan menurut fungsinya terbagi dua yaitu berupa:

a. Alur pelayaran yang merupakan pintu masuk kolam pelabuhan sampai ke dermaga (navigational channels);

b.  Kolam putar yaitu daerah perairan untuk berputarnya kapal (turning basin).

3.  Alat bantu navigasi

Alat bantu navigasi adalah alat bantu yang berfungsi memberikan peringatan atau tanda-tanda terhadap bahaya yang tersembunyi misalnya batu karang di suatu perairan, memberikan petunjuk/ bimbingan agar kapal dapat berlayar dengan aman di sepanjang pantai, sungai dan perairan lainnya, memberikan petunjuk dan bimbingan pada waktu kapal akan keluar masuk pelabuhan dan ketika kapal akan merapat dan membunag jangkar.

4.  Breakwater atau Pemecah gelombang

Pemecah gelombang adalah suatu struktur bangunan kelautan yang berfungsi khusus untuk untuk melindungi pantai atau daerah di sekitar pantai terhadap pengaruh gelombang laut. Menurut Nazir (1999), breakwater menurut bentuknya dibedakan menjadi beberapa tipe yaitu:

a. Tipe Breakwater Timbunan (the Mound Type or The Rubble Mound Type)

b. Tipe Breakwater Dinding Tegak (The Wall Type)

2.3.2.   Fasilitas fungsional

            Fasilitas fungsional adalah fasilitas yang diperlukan untuk mendayagunakan pelayanan yang menambah nilai guna segala kegiatan kerja di areal pelabuhan yang optimal dapat dicapai. Menurut Lubis (2000), fasilitas fungsional dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian berdasarkan fungsinya yaitu :

a. Untuk penanganan hasil tangkapan dan pemasarannya, yang terdiri dari Tempat  Pelelangan Ikan (TPI), pemeliharaan dan pengolahan hasil tangkapan ikan, pabrik es, gudang es refrigasi/ fasilitas pendingin, dan gedung-gedung pemasaran;

b.Untuk pemeliharaan dan perbaikan armada kapal dan alat penangkap ikan, ruang mesin, tempat penjemuran alat penangkap ikan, bengkel, slipways, dan gudang jarring;

c. Untuk perbekalan yang teridiri dari tangki, dan instalasi air minum serta BBM;

d. Untuk komunikasi yang terdiri dari : stasiun jaringan telepon, radio SSB.

Ruangan untuk aktifitas lelang yang ada maka gedung pelelangan ikan terbagi menjadi 3 zona yaitu untuk sortir atau persiapan lelang, pelelangan ikan, dan untuk pengepakan. Perbandingan luas antara bagian sortir, bagian pelelangan dan bagian pengepakan adalah antara 1 : 2 : 1.

2.3.3.   Fasilitas penunjang

Menurut Kramadibrata (1985), fasilitas penunjang adalah fasilitas yang secara tidak langsung meningkatkan peranan pelabuhan perikanan atau para pelaku mendapatkan kenyamanan melakukan aktifitas di pelabuhan. Berikut ini adalah contoh dari fasilitas penunjang :

a. Fasilitas kesejahteraan : MCK, poliklinik, mess, kantin/ warung, musholla;

b. Fasilitas administrasi : kantor pengelola pelabuhan, ruang operator, kantor syah bandar, kantor beacukai.

Didalam pengoperasiaanya, hendaknya semua jenis fasilitas yang ada dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin, agar tidak menimbulkan kerugian dalam pengelolaannya.Oleh karena itu didalam membangun suatu pelabuhan, kiranya harus diteliti secara benar fasilitas-fasilitas apakah yang harus dibangun atau harus ada agar pelabuhan dapat berfungsi secara efektif dan efisien (Elfandi,1994).

 

 

2.4.    Klasifikasi Pelabuhan Perikanan

          Menurut Murdiyanto (2004), berdasarkan klasifikasi besar-kecil skala usahanya pelabuhan perikanan dibedakan menjadi tiga tipe pelabuhan :

2.4.1.      Pelabuhan perikanan tipe A

Pelabuhan tipe ini adalah pelabuhan perikanan yang diperuntukkan terutama bagi kapal-kapal perikanan yang beroperasi di perairan samudera yang lazim digolongkan ke  dalam armada perikanan jarak jauh sampai ke perairan ZEEI (Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia) dan perairan internasional. Adapun jumlah ikan yang didaratkan minimum sebanyak 200 ton per hari atau 73.000 ton per tahun. Baik untuk pemasaran di dalam maupun di luar negeri (ekspor). Pelabuhan tipe A ini dirancang untuk bisa menampung kapal berukuran lebih besar daripada 60 GT. Sebanyak sampai dengan 100 unit kapal sekaligus. Contoh PPS Jakarta, PPS Cilacap, PPS Belawan, dan PPS Bungus.

2.4.2.      Pelabuhan perikanan tipe B

Termasuk dalam klasifikasi ini adalah pelabuhan perikanan yang diperuntukkan terutama bagi kapal-kapal perikanan yang beroperasi di perairanan Nusantara  yang lazim digolongkan ke dalam armada perikanan jarak pandang sedang sampai ke perairan ZEEI, mempunyai perlengkapan untuk menangani atau mengolah ikan sesuai dengan kapasitasnya yaitu, jumlah ikan yang di daratkan minimum 50 ton per hari atau 18.250 ton per tahun untuk pemasaran di dalam negeri. Pelabuhan perikanan tipe B ini dirancang untuk bisa menampung kapal berukuran sampai dengan 60 GT, sebanyak 50 unit kapal sekaligus. Contoh : PPN Pekalongan, PPN Brondong, PPN Pelabuhan Ratu, dan PPP Kejawanan.

 

2.4.3.      Pelabuhan perikanan tipe C

Termasuk dalam klasifikasi ini adalah pelabuhan perikanan yang diperuntukkan terutama bagi kapal-kapal perikanan yang beroperasi di perairan pantai, mempunyai perlengkapan untuk menangani atau mengolah ikan sesuai dengan kapasitasnya yaitu minimum sebanyak 2 ton per hari atau 7.300 ton per tahun untuk pemasaran di daerah sekitarnya atau untuk dikumpulkan dan dikirimkan ke pelabuhan perikanan yang lebih besar. Pelabuhan tipe C ini dirancang untuk bisa menampung kapal berukuran sampai dengan 15 GT sebanyak 25 unit kapal. Contoh : PPP Bajomulyo, PPP Blanakan, dan PPP Bondet.

2.4.4.      Pelabuhan perikanan tipe D

            Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) atau bisa disebut pelabuhan perikanan tipe D digunakan untuk melengkapi ketiga tipe pelabuhan perikanan tersebut diatas dapat pula dibangun suatu pangkalan untuk pendaratan ikan hasil tangkapan nelayan yang berskala lebih kecil daripada pelabuhan perikanan pantai ditinjau dari kapasitas penanganan jumlah produksi ikan, maupun fasilitas dasar dan perlengkapannya. PPI dimaksudkan sebagai prasarana pendaratan ikan yang dapat menangani produksi ikan sampai dengan 5 to per hari, dapat menampung kapal perikanan sampai dengan ukuran 5 GT sejumlah 15 unit. Contoh : PPI Muara Angke Jakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Peta Pelabuhan Perikanan di Indonesia

                                               

2.5  Fungsi Pelabuhan Perikanan

Menurut Murdiyanto (2004), beberapa fungsi umum pelabuhan merupakan tugas pokok melindungi kapal dan pelayanan lainnya yang harus dapat dilakukan di setiap pelabuhan perikanan seperti juga di pelabuhan yang bukan untuk kegiatan perikanan. Berbagai fasilitas yang perlu dibangun untuk memenuhi fungsi umum suatu pelabuhan perikanan adalah sebagai berikut :

1.   Jalan masuk yang aman, yang mempunyai kedalaman air yang cukup serta mudah dilayari oleh kapal yang datang dari laut terbuka menuju ke pintu gerbang masuk pelabuhan.

2.   Pintu atau gerbang pelabuhan dan saluran navigasi yang cukup aman dan dalam.

3.   Kolam air yang cukup luas dan kedalamannya serta terlindung dari gelombang dan arus yang kuat untuk keperluan kegiatan kapal  di dalam pelabuhan.

4.   Bantuan peralatan navigasi baik visual maupun elektronis untuk memandu kapal agar dapat melakukan manuver di dalam areal pelabuhan dengan lebih mudah dan aman.

5. Bila dipandang perlu, dapat mendirikan bangunan penahan gelombang (breakwater) untuk mengurangi pengaruh atau memperkecil gelombang dan angin badai di jalan masuk dan fasilitas pelabuhan lainnya.

6.   Dermaga yang cukup panjang dan luasnya untuk melayani kapal yang berlabuh.

7.   Fasilitas yang menyediakan bahan kebutuhan pelayaran seperti bahan bakar minyak, pelumas, air minum, listrik, sanitasi dan kebersihan, saluran pembuangan sisa kotoran dari kapal, penanggulangan sampah dan sistem pemadam kebakaran.

8.   Bangunan rumah dan perkantoran yang perlu untuk kelancaran dan pendayagunaan operasional pelabuhan.

9.   Area di bagian laut dan darat untuk peluasan atau pengembangan pelabuhan.

10. Jalan raya atau jalan kereta api/lori yang cukup panjang untuk sistem transportasi dalam areal pelabuhan dan untuk hubungan dengan daerah lain di luar pelabuhan.

11. Halaman tempat parkir yang cukup luas untuk kendaraan industri atau perorangan di dalam pelabuhan sehingga arus lalu-lintas di kompleks pelabuhan dapat berjalan dengan lancar.

12. Fasilitas perbaikan, reparasi dan pemeliharaan kapal seperti dok dan perbengkelan umum untuk melayani permintaan sewaktu-waktu.

Fungsi khusus suatu pelabuhan perikanan adalah sebagai berikut :

  1. Fasilitas pelelangan ikan yang cukup luas dan dekat dengan tempat pendaratan.
  2. Fasilitas pengolahan ikan seperti tempat pengepakan, pengemasan dan cold storage.
  3. Pabrik es.
  4. Fasilitas penyediaan sarana produksi penangkapan ikan.

 

2.6.    Peranan Pelabuhan Perikanan

Pada hakekatnya pelabuhan perikanan merupakan basis utama kegiatan industri perikanan tangkap yang yang harus dapat menjamin suksesnya aktivitas usaha perikanan tangkap di laut. Pelabuhan perikanan berperan sebagai terminal yang menghubungkan kegiatan usaha di laut dan di darat ke dalam suatu sistem usaha dan berdayaguna tinggi. Aktivitas unit penangkapan ikan di laut harus keberangkatannya dari pelabuhan dengan bahan bakar, makanan, es, dan lain-lain secukupnya. Informasi tentang data harga dan kebutuhan ikan di pelabuhan perlu dikomunikasikan dengan cepat dari pelabuhan ke kapal di laut. Setelah selesai melakukan pekerjaan di laut kapal ikan kembali dan masuk ke pelabuhan untuk membongkar dan menjual hasil tangkapan (Direktoran Jenderal Perikanan, 1996).

Pelabuhan Perikanan memiliki peranan strategis dalam pengembangan perikanan dan kelautan, yaitu sebagai pusat atau sentral kegiatan perikanan laut. Pelabuhan Perikanan selain merupakan penghubung antara nelayan dengan pengguna-pengguna hasil tangkapan, baik pengguna langsung maupun tak langsung seperti: pedagang, pabrik pengolah, restoran dan lain-lain, juga merupakan tempat berinteraksinya berbagai kepentingan masyarakat pantai yang bertempat di sekitar Pelabuhan Perikanan (Kusyanto.D etal. 2006,).

Pemerintah memegang peranan yang besar dalam pembangunan perikanan khususnya Pelabuhan Perikanan yang berkelanjutan. Paling kurang tiga peran pemerintah dalam pembangunan perikanan yaitu pembuatan kebijakan (perencanaan), regulator dan pengawasan (Hutabarat, 2010).

 

 


pkl ku

I.  PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang

Perikanan tangkap merupakan sektor yang menjadi andalan dari bidang perikanan yang diharapkan dapat menjadi prime mover bagi kemajuan perekonomian bangsa dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kegiatan perikanan tangkap telah memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pembangunan nasional. Potensi lestari sumberdaya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 6,4 juta ton per tahun telah memberikan kontribusi produksi perikanan tangkap sebesar 4,2 juta ton (93 % dari total produksi perikanan nasional) dan kontribusi penyerapan tenaga kerja nelayan sebanyak 3.476.200 jiwa. Secara kumulatif diperhitungkan lebih dari 12,5 juta penduduk Indonesia menggantungkan pencahariannya pada usaha perikanan tangkap (Anonim, 2009).

Wilayah pelabuhan perikanan terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan sistem bisnis perikanan yang dipergunakan sebagai tempat kapal perikanan bersandar, berlabuh dan atau bongkar muat ikan yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang perikanan. Terdapat empat kelas pelabuhan perikanan : 1. Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS), 2. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN), 3. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP), 4. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI).

Letak geografis PPP Bajomulyo terletak di Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. Akses jalan 90 km dari ibu kota provinsi, 14 km dari ibu kota kabupaten, 1 km dari ibu kota kecamatan. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo secara geografis terletak antara 111o08’30’’ BT dan 6o42’30’’ LS di dengan panjang pantai 60 kilometer serta berada di sisi Barat sungai Juwana sepanjang 1.346 m dengan luas lahan ± 15 Ha. Kondisi tanah lahan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo adalah lumpur berpasir dan kondisi pantai cukup landai dengan indikasi gerakan sedimen di muara sungai dari arah timur menuju ke arah barat.

Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo Pati dikelola oleh KUD Sarono Mino. Jarak TPI dari Jalan raya ± 1,5 km. Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo terdiri dari 2 unit yaitu Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit I (Lama) melayani armada < 30 GT (Jaring Cantrang, Pancing Mini Long Line, Pancing Senggol, Jaring Cumi dan nelayan tradisional (Jaring udang, Jaring Rajungan, Jaring Teri, dll ) dan Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo unit II (Baru) melayani armada > 30 GT (Jaring Purse Seine).

Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo yang terletak di Desa Bajomulyo Kecamatan Juwana Kabupaten Pati merupakan pengembangan dari PPI Bajomulyo. Penetapan kelas PPP tersebut berdasarkan peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 38 tahun 2008, dimana PPP Bajomulyo adalah salah satu dari sembilan PPP di Jawa Tengah yang merupakan unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah.

Menurut Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo (2008), dengan adanya pelabuhan perikanan pantai di Bajomulyo ini, maka aktivitas perikanan di wilayah Pati diharapkan akan semakin meningkat. Mengingat berbagai kemudahan pelayanan seperti: perijinan berlayar (SIB), surat laik operasi (SLO) dapat diterbitkan oleh Pelabuhan Perikanan Bajomulyo. Dengan catatan kapal-kapal tersebut sudah memiliki surat izin usaha perikanan (SIUP) dan surat izin penangkapan ikan (SIPI).

Sebagai Pelabuhan Perikanan yang baru, peranan PPP sebagai pusat kegiatan perikanan perlu dikembangkan lebih lanjut. Peningkatan pelayanan serta sarana dan prasarana yang ada harus memenuhi kriteria teknis Pelabuhan Perikanan agar dapat dimanfaatkan seluruhnya oleh para pelaku kegiatan perikanan. Dalam usaha penangkapan ikan, PPP Bajomulyo harus mempunyai peran yang penting dalam membina perekonomian masyarakat nelayan disekitarnya, sehingga segala faktor pendukung sangat mempengaruhi dalam memajukan unit usaha perikanan tersebut.

Guna memacu pertumbuhan dan perkembangan perikanan serta peningkatan taraf hidup nelayan, pemerintah menyediakan fasilitas yang di butuhkan nelayan dengan di bangunnya pelabuhan perikanan pantai  PPP Bajomulyo  merupakan salah satu daerah pantai utara Jawa Tengah yang khususnya Kabupaten Pati, maka setelah melalui studi yang dilakukan pemerintah setempat dengan dukungan sepenuhnya dari para pemerintah daerah setempat tentunya untuk di lakukan pelayanan Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo.

 

1.2.Perumusan Masalah

Pada dasarnya   permasalahan dan hambatan yang dihadapi oleh setiap daerah dalam pengelolaan SDI banyak memiliki kesamaan dan sampai saat ini belum banyak mendapatkan solusi yang tepat bagi seluruh kepentingan stake holder (pengguna). Kecenderungan ketidakpatuhan terhadap hukum, tekanan ekonomi dan kenaikan BBM mendorong terjadinya konflik kepentingan antara nelayan pengguna alat tangkap tertentu di daerah penangkapan dan dalam musim tertentu pula. Pengelolaan Pelabuhan Perikanan saat ini di PPP Bajomulyo belum dapat dimanfatkan dengan baik atau dengan kata lain belum dapat di optimalkan.

Pemerintah indonesia yang telah mengeluarkan standar pelayanan prima sebagaimana tertuang dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63 tahun 2003, dan berdasarkan prinsip pelayanan sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Negara Nomor 63 tahun 2003 tersebut di atas, selanjutnya di kembangkan 14 (empat belas) unsur yang “relevan”, “valid” dan “reliable” sabagai unsur minimal yang harus ada untuk dasar pengukuran indeks kepuasan masyarakat sebagaimana tercantum dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 25 tahun 2004.

Guna meningkatkan produksi di Pelabuhan Perikanan Pantai Bajomulyo Kabupaten Pati, maka perlu adanya perbaikan kualitas pelayanan fasilitas penangkapan ikan di pelabuhan perikanan. Menurut Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Departemen Kelautan dan Perikanan, dalam merencanakan peningkatan kualitas pelayanan fasilitas PPP maka perlu adanya pertimbangan mengenai peningkatan operasional pelabuhan perikanan dan revitalisasi pelabuhan perikanan.

 

1.3.   Tujuan

Tujuan dilaksanakannya Praktek Kerja Lapangan ini adalah:

  1. Mengetahui fasilitas di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo;
  2. Mengetahui sistem pengelolaan fasilitas Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo; dan
  3. Mengetahui rencana pengembangan fasilitas yang ada di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo.

 

1.4.    Manfaat Praktek Kerja Lapangan

Hasil dari Praktek Kerja Lapangan ini diharapkan dapat dijadikan informasi dan memberikan manfaat berupa peningkatan pengelolaan pada Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Bajomulyo Kabupaten Pati Jawa Tengah  bagi pemerintah daerah dan masyarakat setempat dalam rangka perencanaan peningkatan pelayanan dan jasa yang terkait dengan fasilitas dan sarana yang berlaku pada Pelabuhan Pantai Perikanan (PPP) Bajomulyo Pati.

 

1.5.     Waktu dan Tempat Praktek Kerja Lapangan (PKL)

Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan pada 17 Febuari 2012 sampai 3 Maret 2012  bertempat di PPP Bajomulyo Jl. Hang Tuah 79 Desa Bajomulyo, Kec. Juwana, Kab. Pati.

 

PROPOSAL STUDI PERIKANAN TANGKAP PAYANG LEMURU DI PELABUHAN PERIKANAN NUSANTARA (PPN) PRIGI TRENGGALEK JAWA TIMUR Oleh : RIZKHA AYUDYA YULIASARI K2C 009 039 FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jawa Timur merupakan propinsi di Indonesia yang kawasan lautnya hampir empat kali luas daratan, dengan 74 pulau kecil dengan garis pantai sepanjang 1.600 km. Produksi perikanan laut Jawa Timur pada tahun 2007 sebesar 796.640 ton per tahun atau 16,19 % dari total produksi perikanan laut Indonesia sebesar 4.942.430 ton. Hal tersebut menunjukkan bahwa sumbangan perikanan laut Jawa Timur cukup besar bagi total produksi perikanan laut Indonesia (Departemen Kelautan dan Perikanan, 2008). Kabupaten Trenggalek merupakan salah satu kabupaten di Propinsi Jawa Timur yang terletak di bagian selatan dari wilayah Propinsi Jawa Timur pada koordinat 111ο 24’ – 112ο 11’ BT dan 70ο 63’ – 80ο 34’ LS. Di Kabupaten Trenggalek ini terdapat PPN Prigi. Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi adalah unit pelaksana teknis bidang pelabuhan perikanan yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Direktur Jendral Perikanan Tangkap, Departemen Kelautan dan Perikanan. Pelabuhan perikanan ini bertugas melaksanakan fasilitasi produksi dan pemasaran hasil perikanan di wilayahnya, pengawasan pemanafaatan sumberdaya untuk pelestarian dan kegiatan kelancaran kapal perikanan serta pelayanan kesyahbandaran di pelabuhan perikanan. 1.2. Perumusan Masalah Alat tangkap Payang merupakan alat tangkap yang dioperasikan di permukaan peraiaran. Konstruksi alat tangkap tersebut hampir mirip dengan lampara, tetapi tidak menggunakan otter board. Pengoperasian Payang dilakukan pada permukaan perairan. Payang mempunyai tingkat selektifitas yang rendah disebabkan penggunaan mesh size yang kecil, sehingga dapat menangkap ikan-ikan kecil seperti Teri sampai ikan yang berukuran lebih besar seperti Tongkol dan sebagainya. Alat tangkap Payang di PPN Prigi banyak dioperasikan dengan kapal-kapal berukuran kurang dari 30 GT dengan jumlah trip yang umumnya one day fishing. Payang secara ekonomis termasuk alat tangkap yang menguntungkan karena menghasilkan tangkapan ikan yang bernilai ekonomis tinggi seperti Teri Nasi dan juga dapat untuk menangkap ikan-ikan besar semacam Tongkol, Tenggiri dan sebagainya. Pengoperasiannya dimulai dengan penurunan atau penebaran jaring (setting), immersing, kemudian dilanjutkan dengan penarikan jaring (hauling), hingga akhirnya ikan terkumpul dan kemudian jaring diangkat. Selanjutnya ikan akan diambil dan dimasukkan ke dalam palka. II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Alat Tangkap Payang 2.1.1. Pengertian alat tangkap payang Payang adalah pukat kantong yang digunakan untuk menangkap gerombolan ikan permukaan (pelagic fish) dimana kedua sayapnya berguna untuk menakut-nakuti atau mengejutkan serta menggiring ikan supaya masuk ke dalam kantong. Payang juga dapat diartikan sebagai alat tangkap yang mempunyai kantong dan bersifat aktif untuk mengejar gerombolan ikan (Anonim, 1975). Operasi penangkapan Payang dilakukan dengan menggunakan alat bantu rumpon, dimana ikan-ikan yang ada pada rumpon digiring masuk ke dalam kantong, walaupun dalam operasi penangkapannya tidak selalu menggunakan rumpon. Alat tangkap ini banyak digunakan di perairan Indonesia, di Sulawesi Selatan alat tangkap ini banyak digunakan di perairan Selat Makasar, terutama di Teluk Mandar (Sudirman dan Mallawa, 2004). 2.1.2. Klasifikasi alat tangkap payang Menurut Subani dan Barus (1989), banyak tipe ataupun klasifikasi dari Payang yang terdapat di Indonesia. Dapat dikatakan tiap daerah mempunyai bentuk sendiri-sendiri. Berikut ini beberapa contoh dari payang di seluruh Indonesia : 1. Payang adalah istilah yang umum dikenal. Bentuk payang ini banyak dipakai oleh nelayan pantai utara Jawa dan Lampung; 2. Payang Uras, salah satu jenis payang yang menggunakan lampu sebagai alat bantu waktu penangkapan, banyak digunakan di Selat Bali untuk menangkap ikan lemuru; 3. Jala Oras adalah jenis payang yang dikhususkan untuk menangkap ikan Julung-julung (Henu rumphus spp) terdapat di daerah Sumbawa dan Manggarai (Flores Timur); 4. Pukat Banting Aceh adalah tipe payang yang mempunyai dua kantong. Dalam operasionalnya penangkapan menggunakan alat bantu yang disebut Unjan, Tausan dan Leret; 5. Pukat Tengah adalah tipe payang yang banyak terdapat di Sumatera Barat yang dalam penangkapannya menggunakan rabo (rumpon) yang berbentuk sedikit berbeda dibanding rumpon-rumpon di Jawa maupun daerah lain; 6. Jala Lompo adalah tipe payang yang banyak digunakan di daerah Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Dalam operasi penangkapannya menggunakan alat bantu rompong (rumpon). 2.1.3. Konstruksi alat tangkap payang Menurut Subani dan Barus (1989), Payang kantong lingkar yang secara garis besar terdiri dari bagian kantong, badan, sayap namun ada juga yang membagi hanya menjadi dua yaitu kantong dan sayap. Bagian kantong umumnya terdiri dari bagian-bagian kecil yang tiap bagian mempunyai nama sendiri-sendiri, namun nama-nama bagian tersebut berbeda-beda tiap daerah. Payang mempunyai panjang keseluruhan 150 – 300 meter, yang terdiri dari bagian kantong, tampahan, dan kaki. Bahan pokok untuk pembuatan adalah pinti (Coryphya lamk), sebagai bahan badan jaring secara keseluhan, tali ijuk untuk ris bawah (foot rope), tali rotan untuk selambar depan dan tali bambu untuk talen-tendak (Mulyono, 1986). Menurut Badan Standardisasi Nasional (2005), Payang mempunyai bagian-bagian yang terdiri dari : 1. Sayap / kaki jaring (wing) Bagian jaring yang terpanjang dan terletak di ujung depan dari pukat kantong payang. Sayap jaring terdiri dari sayap atas (upper wing) dan sayap bawah (lower wing). 2. Medan jaring bawah (bosoom) Bagian jaring yang terletak di bawah mulut jaring yang menjorok ke depan. Medan jaring bawah merupakan selisih antara panjang sayap atas dengan panjang sayap bawah. 3. Badan jaring (body) Bagian jaring yang terletak di antara bagian kantong dan bagian sayap jaring. 4. Kantong jaring (cod end) Bagian jaring yang tependek dan terletak di ujung belakang dari pukat kantong jaring. 5. Tali temali a) Tali ris atas (head rope) Tali yang berfungsi untuk menggantungkan dan menghubungkan kedua sayap jaring bagian atas melaui mulut jaring bagian atas. b) Tali ris bawah (ground rope) Tali yang berfungsi untuk menghubungkan kedua sayap jaring bagian bawah melalui bagian bosoom jaring. c) Tali selambar (warp rope) Tali yang berfungsi sebagai tali penarik (towing) pukat kantong payang ke atas geladak. 6. Pemberat dan pelampung Pada bagian sayap diberikan pelampung yang berfungsi untuk memberikan daya apung, sedangkan supaya sayap tersebut terentang dalam air maka diberikan pemberat. Menurut Mulyono (1986), cara operasi Payang mula-mula dengan melemparkan selambar depan yang biasanya terbuat dari rotan yang dipilin, kemudian kapal bergerak melingkar sambil menjatuhkan bagian-bagian alat tangkap Payang lainnya sampai bertemu dengan tali selambar yang dilemparkan pertama kali, lalu payang mulai ditarik dari kedua arah sayapnya. Untuk menjaga terlepasnya tali ris atas dan bawah diusahakan antara satu dan lainnya berimpit sehingga diharapkan dapat memperkecil kemungkinan lolosnya ikan, setelah itu penarikan payang dipercepat sehingga kantong naik ke atas kapal. 2.1.5. Ukuran mata jaring (Mesh size) Menurut Ayodhyoa (1981), satu mata jaring di bentuk oleh empat simpul. Mata jaring akan terbuka secara maksimum jika pada keempat simpul ini bekerja gaya-gaya yang sama besarnya, dua gaya pada arah horizontal yang berlawanan arah dan dua gaya pada arah vertikal yang berlawanan arah pula. Baik arah dan besar dari gaya-gaya ini haruslah selalu berada dalam keadaan seimbang sedemikian sehingga biarpun keadaan perairan berubah-ubah, mata jaring tetap terbuka maksimum. Pada kenyataan tidaklah mudah untuk mendapatkan hal yang demikian. 2.1.6. Hasil tangkapan payang Menurut Sudirman dan Mallawa (2004), jenis-jenis ikan yang tertangkap dengan alat tangkap Payang adalah Layang (Decapterus sp), Tongkol (Euthynnus sp), Selar (Caranx sp), Kembung (Rastralliger sp), Sunglir (Elagatis sp), Bawal Hitam (Formio sp). Jadi pada umumnya yang tertangkap adalah ikan-ikan yang senang berada di daerah rumpon. Ikan Layang merupakan hasil tangkapan yang dominan. 2.2. Daerah Penangkapan Ikan Menurut Nasocha (2000), daerah penangkapan ikan adalah suatu daerah perairan dimana ikan yang menjadi sasaran penangkapan diharapkan dapat tertangkap secara maksimal tetapi dalam batas kelestarian sumberdaya perikanan. Kriteria daerah penangakapannya yaitu perairan tersebut harus memiliki lingkungan yang cocok untuk hidup ikan yang menjadi ikan sasaran, perairan itu mempunyai kandungan makanan yang cocok bagi ikan yang menjadi ikan sasaran, perairan tersebut merupakan tempat pembiakan atau pemijahan yang cocok bagi ikan sasaran. Nasocha (2000), daerah penangkapan ikan yang baik harus memenuhi beberapa syarat, antara lain: 1. Jumlah populasi ikan yang menjadi sasaran penangkapan cukup besar; 2. Alat tangkap yang digunakan mudah dioperasikan di daerah penangkapan tersebut tanpa adanya gangguan (contoh tonggak bekas bagan tancap, adanya bangkai kapal, atau daerah lalu lintas kapal); dan 3. Hasil tangkapan yang diperoleh jika dijual dapat menutup semua biaya operasi yang telah dikeluarkan. Menurut Nasocha (2000), beberapa keadaan yang umumnya disukai oleh ikan dan hewan laut lainnya yaitu: 1. Daerah yang keadaan faktor fisikanya optimum yang menyebabkan spesies ikan dapat beradaptasi karena fluktuasi yang terjadi di daerah tersebut relatif kecil. Daerah yang merupakan pertemuan dan puncak up welling yang merupakan kombinasi thermoklin dari perairan yang dangkal dan kisaran temperaturnya bagi spesies ikan yang merupakan faktor pembatas pada daerah yang sempit. 2. Daerah yang dekat dengan bangunan-bangunan yang ada di dasar laut seperti terumbu karang, daerah topografi yang menghasilkan campuran antara lapisan air atas dan lapisan air di bawahnya dan organisme yang di bawahnya merupakan makanan ikan. Beberapa lokasi yang merupakan daerah yang baik untuk fishing ground karena merupakan daerah yang spesifik bagi ikan guna menempelkan telur-telurnya seperti dekat rumput laut, bangunan-bangunan atau kapal karam yang ada di dasar laut. Daerah pengoperasian Payang menurut Mulyono (1986), untuk Payang pinggir dengan mesin sekitar 30 – 40 HP, operasi biasanya dilaksanakan pada perairan sejauh 5 – 20 Mil Laut, sedangkan untuk Payang Agung atau Besar operasinya dilaksanakan 20 – 80 Mil Laut. Daerah penangkapan Payang ini pada perairan yang tidak terlalu jauh dari pantai atau daerah subur yang tidak terdapat karang. Menurut JICA (1975), mengungkapkan bahwa pada umumnya berdasarkan kondisi lingkungan, maka faktor berikut harus disukai ikan sehingga pada akhirnya ikan-ikan tersebut akan berkumpul pada daerah penangkapan tersebut: 1. Daerah tersebut harus memiliki kondisi fisik lingkungan yang optimal bagi ikan dan perubahan terhadap kondisi fisik ini tidak terjadi secara mencolok; 2. Fishing ground biasanya ditemukan pada daerah up welling dimana terdapat pada saat itu masa air dari dasar yang kaya akan garam-garam mineral akan naik ke zona eufotik sehingga fitoplankton dengan proses fotosintesis, menghasilkan sumber makanan yang melimpah bagi organisme; 3. Fishing ground juga ditemukan pada zona frontal dimana kekuatan up welling yang lemah menaikkan lapisan termoklin ke daerah yang lebih tinggi sehingga lapisan termoklin berada di lapisan yang lebih dangkal; 4. Migrasi ikan mengikuti masa air atau arus, dimana mereka menemukan suhu yang sesuai pada suatu waktu dari tahun ke tahun akan cenderung mengumpul pada zona frontal dimana terdapat pertemuan antara dua arus, misalnya arus oyashio dan kurashio; 5. Beberapa lokasi merupakan fishing ground yang baik karena daerah tersebut memiliki karakteristik yang sesuai dan disukai oleh ikan untuk meletakkan telur-telurnya. Menurut Ayodhyoa (1981), daerah penangkapan yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: 1. Arus laut tidak terlalu kuat; 2. Dasar perairan terdiri dari lumpur atau pasir, tidak terdapat benda yang dapat menyangkut pada jaring saat dilakukan operasi penangkapan; 3. Dasar perairan datar, tidak terdapat perbedaan kedalaman perairan yang mencolok. 2.3. Musim Penangkapan Menurut Nasocha (2000), operasi penangkapan ikan dari satu jenis alat tangkap tidak bisa sepanjang tahun dilaksanakan dengan menguntungkan. Karena hal tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu : 1. Musim ikan, ikan mempunyai musim tangkapan pada bulan-bulan tertentu dan tidak bisa sepanjang tahun di satu daerah penangkapan ikan (fishing ground); 2. Arus, angin, pergerakan angin sangat diperlukan oleh tumbuhan dan binatang. Dari pergerakan ini, terbawa mineral pokok, O2, serta sumber makanan. Angin (musim) juga berpengaruh pada usaha penangkapan ikan; 3. Gelombang laut, besarnya gelombang tergantung pada kekuatan angin dan jarak yang ditempuh gelombang. Gelombang berfungsi untuk membantu bercampurnya air dan udara sehingga penuh O2; 4. Kondisi dalam air, arus laut perlu diperhatikan dalam suatu sistem penangkapan karena kehidupan ikan dipengaruhi oleh keadaan laut. Karakteristik perairan dan iklim Laut Jawa dipengaruhi langsung oleh perubahan angin muson dan aliran massa air dari Laut Flores, Selat Makasar, dan Laut Cina Selatan. Selain itu, pengenceran oleh massa air dari daratan Kalimantan (run off) ke perairan Laut Jawa bagian utara (Selatan Kalimantan) terjadi, terutama, pada musim hujan (musim barat). Saat angin muson timur bertiup (Maret – Agustus), massa air bersalinitas tinggi (lebih dari 34‰) juga masuk dari Laut Cina Selatan dan mendorong massa air bersalinitas tinggi ke bagian timur Laut Jawa (Veen, 1953; Wyrtki, 1961). Fluktuasi suhu permukaan relatif kecil dengan suhu rata-rata antara 27 – 290C, tetapi secara horizontal sebaran suhu permukaan air laut berubah menurut musim. Pada saat terjadinya muson timur, suhu permukaan menjadi lebih dingin akibat masuknya massa air laut dalam (salinitas lebih tinggi) ke Laut Jawa. Sementara pada muson barat, suhu permukaan Laut Jawa relatif lebih panas. Pengaruh curah hujan pada suhu air laut terlihat sangat nyata di pantai (Potier, 1998). Menurut Potier (1998), stok ikan pelagis sangat peka terhadap perubahan lingkungan, terutama penyebaran salinitas secara spasial yang dibangkitkan oleh angin muson. Pada tahun basah, saat curah hujan diatas normal (musim barat), penetrasi jenis ikan oseanik ke Laut Jawa berkurang akibat pengurangan massa air oseanik di bagian timur Laut Jawa. Terdapat korelasi positif antara hasil tangkapan dengan salinitas permukaan, tetapi korelasi ini menunjukkan negatif dengan curah hujan. Secara spasial, ikan pelagis tersebar ke arah timur dengan konsentrasi kelimpahan terdapat di Laut Jawa bagian timur, variabilitas beberapa jenis ikan berasosiasi dengan perubahan salinitas, sedangkan kelompok coastal (ikan yang menyebar di dekat pantai) dan Juwana berasosiasi dengan perubahan suhu. 2.4. Alat Bantu Penangkapan Ikan Menurut Nasocha (2000), penentuan daerah penangkapan dari jenis ikan tertentu bukan hal yang mudah sehingga diperlukan alat bantu sebagai penunjang dalam menentukan daerah penangkapan. Sementara itu, tujuan dari survey penentuan daerah penangkapan ikan itu sendiri adalah untuk memberikan data tentang daerah penangkapan potensial termasuk di dalamnya data jumlah atau kuantitas dan kualitas ikan yang ada, karakteristik ikannya, kesulitan-kesulitan dalam usaha penangkapan dan jalan keluarnya. Oleh karena itu, diperlukan alat bantu untuk menentukan daerah penangkapan ikan. Alat bantu tersebut dapat dikelompokan menjadi 2 yaitu: 1. Alat bantu dari alam Kondisi alam yang dapat dijadikan sebagai pilihan dalam menentukan daerah penangkapan yaitu: a. Adanya burung-burung laut yang menukik dan menyambar ke permukaan laut, jika terdapat sekelompok ikan di suatu perairan, maka akan berdatangan burung-burung laut yang berusaha menangkap ikan; b. Adanya buih-buih atau riak air di permukaan laut sebagai akibat dari ikan yang jumlahnya banyak dan bergerak ke permukaan perairan dari lapisan perairan di bawahnya untuk mengambil oksigen. 2. Alat bantu buatan Ada beberapa peralatan buatan yang dapat digunakan sebagai alat bantu dalam menentukan daerah penangkapan ikan yaitu: a. Rumpon Fungsi dari rumpon adalah membantu untuk mengumpulkan ikan pada suatu titik perairan tertentu untuk kemudian dilakukan operasi penangkapan. b. Lampu Lampu berguna untuk menarik perhatian ikan-ikan yang mencari makanannya yaitu plankton-plankton yang senang terhadap rangsangan cahaya. Jenis lampu yang biasa digunakan adalah lampu petromak dan lampu listrik. c. GPS GPS merupakan alat bantu untuk menentukan posisi si pengguna. GPS digunakan untuk mencari fishing ground dan untuk pencarian rumpon yang telah terpasang. d. Fish Finder Fish Finder adalah alat bantu yang digunakan untuk mengetahui kedalaman perairan dan mengetahui gerombolan ikan. III. MATERI DAN METODE 3.1. Materi Materi yang digunakan dalam praktek kerja lapangan ini adalah sebagai berikut: Tabel 1. Alat yang digunakan dalam PKL No Nama alat dan bahan Kegunaan Ketelitian 1. Unit alat tangkap Payang Menangkap ikan 2. Penggaris Mengukur panjang ikan 1 mm 3. Timbangan Mengukur berat ikan 1 gram 4. Meteran Jahit Mengukur panjang alat tangkap 1 cm 5. Kamera Dokumentasi 6. Kuisioner Pencatat hasil wawancara 7. Life Jacket Keselamatan di laut 8. Alat tulis Mencatat hasil praktek 9. Stopwatch Menghitung waktu 0,1 detik 10. Jangka sorong Mengukur pelampung, pemberat, besar mata jaring dan diameter tali pada alat tangkap 0,01 mm 3.2. Metode Metode Praktek Kerja Lapangan menggunakan metode survey yang bersifat deskriptif dan pengamatan secara langsung di lapangan serta melakukan pengumpulan data dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan mendetail sehingga didapatkan gambaran secara menyeluruh sebagai hasil dari pengumpulan data dan analisis data dalam jangka waktu tertentu dan terbatas pada daerah tertentu (Nazir, 1983). 3.2.1. Metode pengumpulan data Metode pengumpulan data yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan ini adalah : 3.2.1.1. Metode observasi Menurut Nasution (2003), observasi dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan manusia dalam kenyataan. Mengadakan observasi menurut kenyataan, melukiskannya dengan kata-kata secara cermat dan tepat apa yang diamati, mencatatnya dan kemudian mengolahnya dalam rangka masalah yang diteliti secara ilmiah 3.2.1.2. Metode wawancara Wawancara merupakan suatu proses interaksi dan komunikasi dengan cara bertanya langsung kepada responden untuk mendapatkan informasi. Hasil wawancara ditentukan oleh beberapa responden yang berinteraksi langsung dengan pewawancara dengan menggunakan daftar pertanyaan (kuisioner). 3.2.1.3. Metode studi pustaka Studi pustaka adalah penelitian yang dilakukan berdasarkan atas karya tulis, termasuk hasil penelitian baik yang telah maupun belum dipublikasikan. Metode tersebut dapat digunakan untuk mencari data-data sekunder sebagai data pendukung dari data primer yang didapatkan dari lapangan. 3.2.1.4. Metode dokumentasi Menjelaskan dan mengadakan penelitian yang bersumber pada tulisan atau bentuk gambar yaitu metode dokumentasi. Metode ini bersifat sekunder dan dilaksanakan oleh si peneliti dengan menyelidiki benda-benda tertulis seperti buku-buku, majalah, dokumen, buletin dan sebagainya (Natsir, 1983). 3.3. Data-data yang diperlukan 3.3.1. Data primer Data primer yang diambil dalam Praktek Kerja Lapangan ini antara lain : 1. Penentuan daerah penangkapan ikan (fishing ground); 2. Persiapan kegiatan penangkapan ikan; 3. Pengoperasian alat tangkap Payang; 4. Sarana penangkapan yaitu spesifikasi alat tangkap serta jenis kapal / perahu yang digunakan dalam operasi penangkapan. 5. Jumlah dan komposisi setiap jenis ikan dari hasil tangkapan alat tangkap Payang 3.3.2. Data sekunder Data sekunder yang diambil dalam Praktek Kerja Lapangan ini antara lain: 1. Jumlah kapal, jumlah nelayan dan jumlah alat tangkap di PPN Prigi; 2. Jumlah hasil tangkapan alat tangkap payang yang dipakai nelayan di PPN Prigi; 3. Peta pesisir dan wilayah pantai selatan Jawa Timur; 4. Potensi dan tingkat pemanfaatan perikanan tangkap; 5. Informasi-informasi lain. DAFTAR PUSTAKA Ayodhyoa, AU. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. Badan Standardisasi Nasional. 2005. Bentuk Baku Konstruksi Pukat Kantong Payang Berbadan Jaring Pendek. Badan Standardisasi Nasional, Jakarta. Japan International Coorporation Agency. 1975. Fishing Technique. JICA. Tokyo. Mulyono. 1986. Alat-alat Penangkapan Ikan Buku I: Macam-macam Pancing, Perangkap, Jaring Angkat. Dinas Perikanan Daerah Tingkat I Jawa Tengah, Semarang Nakamura. 1994. Tuna Distribution and Migration. Fishing New Book Ltd. England Nontji, Anugerah. 1993. Laut Nusantara. Djambatan, Jakarta. Nasocha, Yusuf. 2000. Daerah Penangkapan Ikan. Fakultas Peternakan, Jurusan Perikanan, Universitas Diponegoro. Semarang. Nasution, S. 2003. Metode Research (Penelitian Umum). PT. Bumi Aksara, Jakarta Nazir, M. 1983. Metode Penelitian. PT Ghalia Indonesia, Jakarta. Potier, M. 1998. Study on the Big Purse Seiners Fishery in the Java Sea. VII.Environment of the Java Sea. Alur. Rcs. Fish. Inst.,51, 79-100. PPN Prigi. 2009. Laporan Statistik Perikanan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. PPN Prigi. 2009. Laporan Tahunan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Subani, W dan HR. Barus. 1989. Alat Penangkapan Ikan dan UdangLaut di Indonesia. Jurnal Jurnal Penelitian Perikanan Laut No. 50 Th. 1988/1989. Balitbang Pertanian Deptan. Jakarta. Sudirman dan A. Mallawa. 2004. Teknik Penangkapan Ikan. PT Rineka Cipta. Jakarta. Veen, P.C. 1953. Preliminary Charts of the Mean Surface Salinity of the Indonesian Archipelago and Adjacent Waters. Org. Sci. Res. Bull. 17: 1.

« Older entries
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 391 other followers