ne materi pretest prktikum navigasi…pdhl bsok,tpi gw lom bljr..

Ilmu pelayaran ialah suatu ilmu pengetahuan yang mengajarkan cara untuk melayarkan sebuah kapal dari suatu tempat ke tempa lainnya, dengan aman dan ekonomis yang disebabkan pengaruh laut, misalnya ombak, arus dan angin maka jarak yang terpendek belum tentu dapat ditempuh dalam waktu yang tersingkat. Dapat saja terjadi bahwa jarak yang baik panjang ditempuh dalam waktu yang lebih singkat andaikan pelayaran tadi selalu mendapat arus dari belakang. Menentukan rute yang akan ditempuh kapal haruslah diperhatikan faktor-faktor cuaca, keadaan laut, sifat-sifat kapalnya sendiri, dan sebagainya diperoleh suatu rencana pelayaran yang paling ekonomis dan cukup aman (Arso, 1992).

Menurut Supriyono (2000), navigasi adalah proses mengarahkan gerak kapal dari satu titik ke titik yang lain dengan aman dan lancar serta untuk menghindari bahaya atau rintangan-pelayaran. Istilah navigasi tersebut berasal dari bahasa latin Navis = kapal/ kendaraan / vihicle dan Agere = mengarahkan/ menjalankan/ membawa. Menurut kamus besar bahasa Indonesia (Balai Pustaka) navigasi diartikan sebagai :

  1. Ilmu tentang menjalankan kapal laut atau kapal terbang.
  2. Tindakan menetapkan haluan kapal atau arah terbang.
  3. Pelayaran/ penerbangan.

Sebagai mahasiswa pemanfaatan sumberdaya perikanan yang mengarah kepada penangkapan, sangat perlu untuk mengikuti praktikum navigasi. Praktikum navigasi dapat memberi pengetahuan kepada mahasiswa tentang berbagai macam alat navigasi yang digunakan dalam kapal, khususnya kapal perikanan. Meskipun umumnya kapal perikanan di Indonesia masih sangat sedikit yang menggunakan peralatan navigasi, tetapi setidaknya praktikum ini dapat menambah pengetahuan mahasiswa tentang berbagai macam alat navigasi yang canggih, selain itu dapat melatih mahasiswa agar dapat mengemudi kapal dan mempraktekkan cara kerja dari berbagai peralatan navigasi tersebut.

Navigasi darat adalah penentuan posisi dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya ataupun di peta. Istilah navigasi pada umumnya digunakan untuk keperluan pelayaran dan penerbangan. Penambahan kata darat pada navigasi lebih ditekankan pada penggunaan di daratan antara lain meliputi gunung, sungai, lembah, rawa dan sebagainya. Kunci untuk memahami navigasi adalah:

  1. Mampu merekam dan membaca gambaran permukaan pisik bumi.
  2. Mampu menggunakan peralatan pedoman arah.

Kedua hal tersebut dapat dipahami apabila navigasi darat dibantu dengan peralatan peta dan kompas. Keduanya digunakan bersamaan dan mempunyai fungsi yang saling menunjang. Navigasi darat tidak perlu dihafalkan akan tetapi lebih banyak dilatihkan untuk dipraktekkan (Usman Salim, 1979).

Navigasi darat merupakan teknik menentukan posisi dan arah lintasan di peta maupun pada medan sebenarnya (khususnya di daratan). Keahlian ini sangat
mutlak dimiliki oleh penggemar kegiatan alam terbuka karena akan memudahkan
perjalanan ke daerah yang khususnya belum dikenal sama sekali. Keahlian ini sangat berguna dalam usaha pencarian korban kecelakaan tersesat atau bencana alam, untuk itu dibutuhkan pemahaman kompas dan peta serta teknik penggunaannya ( Arso, 1992 ).

2.2.2.  Laut

            Navigasi laut adalah proses mengarahkan gerak kapal dari satu titik ke titik yang lain dengan selamat dan lancar untuk menghindari bahaya dan rintangan pelayaran, sehingga pelayaran kapal dari suatu tempat ke tampat tujuan dengan aman dan efisien. Setiap kapal diperlukan adanya bantuan pesawat navigasi yang ada di atas kapal dan diperlukan lagi adanya sarana bantu navigasi yaitu berupa rambu-rambu navigasi pelayaran (Draissma dan Mulders, 1986)

Fungsi dari sarana bantu navigasi pelayaran adalah untuk menandai bahaya, sebagai penentuan posisi kapal dan untuk menandai alur pelayaran. Sejak zaman Sriwijaya masyarakat Indonesia dikenal dengan sebagai bangsa bahari. Hal tersebut membuktikan bahwa nenek moyang Indonesia dahulu telah mengenal ilmu navigasi yaitu navigasi laut atau pelayaran. Penduduk daerah pantai dari dahulu mengetahui bahwa angin laut mulai bertiup pada pagi hari dan angin tersebut berubah arah menjadi angin darat pada sore hari. Oleh karena itu, para nelayan berlayar pada pagi hari dan kembali ke darat pada sore hari (Rheenan, 1986).

Selain mengenal sistem angin, pelaut dahulu juga telah mengenal jalur pelayaran yang aman, keadaan arus angin, dan keistimewaan daerah setempat. Alat-alat navigasi seperti kompas telah dikenal oleh masyarakat Indonesia. Hal-hal tersebut cukup membuktikan bahwa ilmu navigasi telah dikenal oleh masyarakat Indonesia sejak dari zaman dahulu, meskipun alat-alat yang digunakan oleh nenek moyang masih sangat sederhana. Saat ini ilmu navigasi di Indonesia telah berkembang pesat. Hal ini dibuktikan dengan sistem navigasi mobil di Indonesia atau sering kita sebut GPS pada tahun 2011 diperkirakan tumbuh mencapai 79.100 unit dibandingkan tahun 2010 hanya sekitar 52.900 unit atau naik 49,5% (Arso, 1992).

2.3.      Peralatan Navigasi

2.3.1.   Kompas

            Kompas adalah alat navigasi untuk mencari arah berupa sebuah panah penunjuk magnetis yang bebas menyelaraskan dirinya dengan medan magnet bumi secara akurat. Kompas memberikan rujukan arah tertentu, sehingga sangat membantu dalam bidang navigasi. Arah mata angin yang ditunjuknya adalah utara, selatan, timur, dan barat. Apabila digunakan bersama-sama dengan jam dan sekstan, maka kompas akan lebih akurat dalam menunjukkan arah. Alat ini membantu perkembangan perdagangan maritim dengan membuat perjalanan jauh lebih aman dan efisien dibandingkan saat manusia masih berpedoman pada kedudukan bintang untuk  menentukan arah (PIP, 2005).

Alat apa pun yang memiliki batang atau jarum magnetis yang bebas bergerak menunjuk arah utara magnetis dari sebuah planet sudah bisa dianggap sebagai kompas. Kompas jam adalah kompas yang dilengkapi dengan jam matahari. Kompas variasi adalah alat khusus berstruktur rapuh yang digunakan dengan cara mengamati variasi pergerakan jarum. Girokompas digunakan untuk menentukan utara sejati.

Lokasi magnet di ktub utara selalu bergeser dari masa ke masa. Penelitian terakhir yang dilakukan oleh The Geological Survey of Canada melaporkan bahwa posisi magnet ini bergerak kira-kira 40 km per tahun ke arah barat laut.

Berikut ini adalah arah mata angin yang dapat ditentukan kompas:

  • Utara (disingkat U atau N)
  • Barat (disingkat B atau W)
  • Timur (disingkat T atau E)
  • Selatan (disingkat S)
  • Barat laut (antara barat dan utara, disingkat NW)
  • Timur laut (antara timur dan utara, disingkat NE)
  • Barat daya (antara barat dan selatan, disingkat SW)
  • Tenggara (antara timur dan selatan, disingkat SE)

Gambar 1. Penunjuk Arah Kompas

Ada banyak macam kompas yang dapat dipakai dalam kegiatan di alam, tentunya masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Macam kompas yang digunakan antara lain : Kompas Prisma, Kompas Lensa dan Kompas Silva (Supriyono, 2000).

Namun pada dasarnya fungsi kompas adalah sama, yaitu
1. Mengetahui arah
2. Membidik sasaran

Kompas yang digunakan untuk navigasi :

  1. Kompas Lensa

Kompas lensa merupakan kompas yang dilengkapi dengan lensa biconcav untuk mempermudah dalam pembacaannya. Bahan lensa ini dapat dari logam maupun dari fiber.

Kelebihan dari lensa ini adalah:

  1.  Keringanannya sehingga mudah untuk dibawa dan digunakan, selain harganya yang cukup murah.
  2.  Memiliki pengait untuk memudahkan dalam mendatarkan kompas.

Kekurangannya adalah:

  1. Piringan kompas mudah sekali bergerak sehingga mempersulit kita dalam    penghitungan besar sudut kompas.

b.  Skala pada kompas tiap strip rnewakili dua skala, validitas pengukuran   besarnya sudut kompas kurang, terutama untuk pengukuran sudut kompas dengan angka ganjil, pengukurannya berdasarkan perkiraan saja.

2. Kompas Silva

Kompas ini sering disebut juga kompas orientasi, ini disebabkan oleh kemudahan penggunaan kompas ini untuk orientasi medan. Kompas ini memiliki tanda panah penyesuai yang terdapat di dasar piringan kompas, dilengkapi pula dengan cermin dan sekitar piringan kompas terdapat konektor dan penggaris.

Kelebihannya adalah :

  1. Memiliki cermin untuk memudahkan dalam pembacaan dan pembidikan
  2. Dilengkapi dengan penggaris (dalam cm dan inchi).
  3. Untuk jenis tertentu memiliki kaca pembesar dan konektor untuk peta berskala I : 50.000 dan I : 25.000.
  4. Untuk jenis tertentu dilengkapi dengan lensa pembidik.
  5. Dapat digunakan untuk mengukur besar sudut peta (pengganti busur   derajat).

Kekurangannya adalah

  1. Untuk membuat kompas terdebut datar kita harus menggunakan alat bantu yang datar.
  2. Bila membidik besar sudut kornpas tidak dapat langsung diketahui.

3. Kompas Prisma

Kompas ini memiliki prisma pada bagian dekat pengait. Kompas ini terbuat dari bahan logam, dengan jarum kompas mengandung zat phosphoric yang akan memudahkan pembacaan sudut bila pada tempat gelap.

Kelebihannya adalah

  1. Besar sudut bidikan bisa langsung di baca melalui prisma.
  2.  Dapat langsung diketahui azimuth dan back azimuthnya.
  3. Mudah digunakan, mudah didatarkan.

Kekurangannya adalah

  1. Terbuat dari logam sehingga berat.

2.3.2.   GPS (Global Posisiton System)

   GPS salah satu perlengkapan modern untuk navigasi adalah Global Positioning Satelite/ GPS adalah perangkat yang dapat mengetahui posisi koordinat bumi secara tepat yang dapat secara langsung menerima sinyal dari satelit. Perangkat GPS modern menggunakan peta sehingga merupakan perangkat modern dalam navigasi di darat, kapal di laut, sungai dan danau serta pesawat udara. Global Positioning System (GPS) adalah satu-satunya sistem navigasi satelit yang berfungsi dengan baik. Sistem ini menggunakan 24 satelit yang mengirimkan sinyal gelombang mikro ke Bumi. Sinyal ini diterima oleh alat penerima di permukaan, dan digunakan untuk menentukan posisi, kecepatan, arah, dan waktu. Sistem yang serupa dengan GPS anatara lain GLONASS Rusia, Galileo Uni Eropa, IRNSS India (PIP, 2005).

Gambar  2. GPS

Beberapa kemampuan GPS  antara lain dapat memberikan informasi tentang posisi, kecepatan, dan waktu secara cepat, akurat, murah, dimana saja di bumi ini tanpa tergantung cuaca. Hal yang perlu dicatat bahwa GPS adalah satu-satunya sistem navigasi ataupun sistem penentuan posisi dalam beberapa abad ini yang memiliki kemampuan handal seperti itu. Ketelitian dari GPS dapat mencapai beberapa mm untuk ketelitian posisinya, beberapa cm/s untuk ketelitian kecepatannya dan beberapa detik untuk ketelitian waktunya. Ketelitian posisi yang diperoleh akan tergantung pada beberapa faktor yaitu metode penentuan posisi, geometri satelit, tingkat ketelitian data, dan metode pengolahan datanya.

Secara umum produk dari GPS adalah posisi, kecepatan, dan waktu. Selain itu ada beberapa produk lainnya seperti percepatan, azimuth, parameter attitude, TEC (Total Electron Content), WVC (Water Vapour Content), Polar motion parameters, serta beberapa produk yang perlu dikombinasikan dengan informasi eksternal dari sistem lain, produknya antara lain tinggi ortometrik, undulasi geoid, dan defleksi vertical (Arso, 1992).

Prinsip penentuan posisi dengan GPS yaitu menggunakan metode reseksi jarak, dimana pengukuran jarak dilakukan secara simultan ke beberapa satelit yang telah diketahui koordinatnya. Pengukuran GPS, setiap epoknya memiliki empat parameter yang harus ditentukan : yaitu 3 parameter koordinat X,Y,Z atau L,B,H dan satu parameter kesalahan waktu akibat ketidaksinkronan jam osilator di satelit dengan jam di receiver GPS. Oleh karena diperlukan minimal pengukuran jarak ke empat satelit.

Metoda penentuan posisi dengan GPS pertama-tama terbagi dua, yaitu metoda absolut, dan metoda diferensial.  Masing-masing metoda kemudian dapat dilakukan dengan cara real time dan atau post-processing. Apabila obyek yang ditentukan posisinya diam maka metodenya disebut static dan apabila obyek yang ditentukan posisinya bergerak, maka metodenya disebut kinematik (Supriyono,2000).

2.3.3.   Radar

Radar kapal adalah merupakan alat elektronik untuk mendeteksi adanya obyek disekitar kapal dalam radius sesuai jangkauan radar 5 mil, 10, 20 bahkan 100 mil unit radar terbagi dua bagian yang terdiri dari unit monitor yang terpasang dan dapat dibaca anjungan, unit kedua adalah scanner merupakan peralatanyang dapat berputar dan terletak diatas ruang anjungan atau terpasang pada salah satu tiang kapal (Arso,1992).

Radar (dalam bahasa Inggris merupakan singkatan dari Radio Detection and Ranging, yang berarti deteksi dan penjarakan radio) adalah sistem yang digunakan untuk mendeteksi, mengukur jarak dan membuat map benda-benda seperti pesawat dan hujan. Istilah radar pertama kali digunakan pada tahun 1941, menggantikan istilah dari singkatan Inggris RDF (Radio Directon Finding). Gelombang radio kuat dikirim dan sebuah penerima mendengar gema yang kembali. Sinyal yang akan dipantulkan, dapat ditentukan lokasinya dan kadang-kadang ditentukan jenisnya. Sinyal yang diterima kecil, tapi radio sinyal dapat dengan mudah dideteksi dan diperkuat.

Monitor radar beragam, ada yang menampilkan warna hijau dan pada saat ini monitor radar sudah banyak yang berwarna dan monitor radar terdapat beberapa fasilitas yang sangat berguna yaitu fasilitas plotting, tracking ataupun untuk menangkap sinyal khusus .

            Radar  sangat bermanfaat dalam navigasi kapal laut dan kapal terbang modern sekarang dilengkapi dengan radar untuk mendeteksi kapal/pesawat lain, cuaca/ awan yang dihadapi di depan sehingga bisa menghindar dari bahaya yang ada di depan pesawat/kapal.

Gambar  3. Radar

Ada 4 bagian dasar system radar:

  1. Antena, mempunyai fungsi menggabungkan energy dari saurian transmisi ke media propagasi dan sebaliknya. Antenna menyediakan directivitas dan gain untuk keduanya (pengiriman dan penerimaan energi elektromagnetik)
  2. Transmitter, fungsi transmitter adalah untuk membangkitkan gelombang RF yang diinginkan dengan level daya tertentu yang dihasilkan oleh perangkat power oscillator seperti magnetron, interaction oscilattor (EIO) atau dari RF amplifier.
  3. Receiver, fungsi utama penerima adalah menerima sinyal pantul yang lemah menguatkannya pada level tertentu dan mengubah kedalam informasi yang sesuai (dari RF ke baseband.)
  4. Indicator, fungsi utama untuk mengubah informasi target agar dapat dibaca oleh user. Konfigurasi indicator dan format informasi bergantung pada aplikasi radar dan kebutuhan user.

Tabel  1 . Aplikasi Radar

Band Designation

Frequency Range

Usage

HF 3 – 30 MHz -GTH Surveillance
VHF 30 – 300 MHz -Very Long-Range Surveillance
UHF 300 – 1000 MHz -Very long Range surveillance
L 1 – 2 GHz -Long Range Surveillance

-Route traffic control

S 2 – 4 GHz -Moderate range Surveillance

-Terminal Traffic Control

-Long-Range Weather

C 4 – 8 GHz -Long Range Tracking

-Airborne Weather detection

X 9 –12 GHz -Short Range Tracking

-Missile Guidance

-Mapping, Marine Radar Airborne intercept

Ku 12 – 18 GHz -High Resolution Mapping

-Sattelite Altimetry

K 18 – 27 GHz -Little use (water vapor)
Ka 27 – 40 GHz -Very High Resolution Maping

-Airport Surveillance

2.3.4.   ECDIS (Electronic Chart Display Information System)

ECDIS adalah bentuk spesifik dari sistem informasi navigasi berbasis komputer yang mematuhi regulasi International Maritime Organization (IMO) dan dapat digunakan sebagai pengganti peta navigasi kertas pada beberapa area. Tidak semua sistem peta laut elektronik dapat disebut sebagai ECDIS, istilah ini sering digunakan secara tidak tepat untuk mengartikan setiap jenis Electronik Chart System (ECS). Sistem ECDIS yang sebenarnya menampilkan informasi dari (ENC) dan mengintegrasikan informasi posisi dari GPS dan sensor navigasi lainnya, seperti radar, fathometer dan Automatic Identification System (AIS). ECDIS bersama ENC menyediakan untuk pelaut sebuah sistem navigasi real-time yang mengintegrasikan informasi dari berbagai sensor. ECDIS merupakan penolong penunjuk arah otomatis yang mampu secara kontinyu menentukan posisi sebuah kapal dalam hubungannya dengan daratan, objek-objek yang dipetakan, pertolongan navigasi dan bahaya yang tidak terlihat. Terdapat dua bentuk dasar peta laut elektronik yang pertama dilengkapi dengan peraturan IMO untuk kapal-kapal kelas SOLAS yang dikenal sebagai ECDIS) Yang kedua adalah jenis peta laut elektronik secara umum atau ECS (Ratih, 2007).

Sebuah sistem ECDIS menampilkan informasi dari navigasi elektronik grafik dan mengintegrasikan informasi posisi dari GPS dan sensor navigasi, seperti radar dan AIS. ECDIS menampilkan navigasi tambahan informasi terkait, seperti pelayaran arah dan fathometer.

Gambar  4 . ECDIS

2.3.5.  Echo Sounder

Echo sounder adalah merupakan salah satu peralatan elektronik yang terdapat dikapal guna untuk mengukur kedalaman air laut (Yoyok Suariyoto, 2002).

Prinsip kerja echo sounder adalah pengukuran kedalaman laut berdasarkan pulsa getaran suara. Getaran pulsa-pulsa tersebut dipancarkan dari transducer kapal secara vertikal ke dasar laut, selanjutnya permukaan dasar laut, selanjutnya permukaan dasar laut akan memantulkan kembali pulsa-pulsa itu kemudian diterima oleh transducer kapal (Yoyok Suariyoto, 2002)

Selang waktu pulsa saat dipancarkan sampai kembali ke receiver dihitung, sedangkan kecepatan membuat suara di air dapat dikatakan tetap, sehingga setengah waktu tempuh dikalikan dengan kecepatan suara di air dapat dihitung sebagai kedalaman air (Akmal Ismail, 1975)

Rumus kecepatan pulsa air di laut

2d = V.T

d =

dimana : d  = jarak

V = kecepatan rambat suara

T = waktu (dalam detik)

Gambar 5. Echo sounder

 

2.3.6.  Sectan

Sectan adalah sebuah rasi bintang minor yang diperkenalkan pada tahun 1687 oleh Johannes Hevelius. Nama sectan diambil dari bahasa Latin untuk sectan, sebuah instrumen yang sering dipakai Hevelius dalam observasinya. Sectan terdiri dari sebuah teleskop, cermin separuh yang dilapisi perak dan sebuah lengan ayun yang memiliki cermin index.

Secara garis besar sectan adalah instrumen yang mengukur sudut antara dua benda yang terlihat. Terutama, digunakan untuk mengukur sudut antara suatu benda angkasa dan cakrawala, sebuah proses biasanya dikenal sebagai objek pengamatan atau mengambil pemandangan. Sudut diukur dan waktu yang diukur kemudian digunakan untuk mengidentifikasi lokasi pengguna pada peta grid dunia, jadi pada dasarnya sectan alat navigasi dan telah berhasil digunakan oleh pelaut dan bahkan penumpang lainnya selama bertahun-tahun. Proses yang paling umum ini adalah untuk melihat matahari di siang hari untuk menemukan lintang lokasi seseorang . (adrianilham.blogspot.com/navigasi/posting 27 sept 2010/htm).

a.      Fitur-fitur menarik

Sectans sebagai sebuah konstelasi menutupi sebuah daerah yang cenderung gelap di langit. Ia hanya memiliki satu bintang di atas magnitudo ke-5, disebut α Sextantis, yaitu pada 4,49m. Konstelasi ini memiliki beberapa bintang ganda, termasuk γ Sextantis, 35 Sextantis, dan 40 Sextantis. Ada beberapa bintang variabel yang menarik, termasuk β Sextantis, 25 Sextantis, 23 Sextantis, dan LHS 292. NGC 3115, sebuah galaksi lentikuler, adalah satu-satunya benda langit dalam yang menarik ( Arso, 1992 ).

  1. Cara kerja Sectan

1.   Sudut datang sama dengan sudut pantul, maksudnya cahaya yang datang akan dipantulkan dengan sudut yang sama pada cermin datar.

2.   Sudut antara cahaya datang dengan sudut pantulan terakhir adalah sama dengan dua kali sudut yang ada diantara kedua cermin, hal ini terjadi bila cahaya dipantulkan dua kali pada bidang datar yang sama oleh dua buah cermin.

d. Cara perawatan sectan

1. Sectan harus dijaga benar-benar jangan sampai jatuh atau mendapat getaran yang berlebihan.

2.  Bila sectan telah digunakan bersihkan dengan lap dan simpan kembali ke dalam kotaknya dengan baik dan kunci rapat, serta jauhkan dari suhu tinggi (mis. sinar matahari langsung) dan jauhkan juga dari uap air.

3.  Sewaktu mengeluarkan sectan dari dalam kotak, yang harus dipegang pada kerangkanya atau pegangannya (handle) dan jangan sekali-kali memegang pada bagian busur, alhidade atau teropongnya.

4.  Secara periodik bagian-bagian yang bergerak harus diberi minyak pelumas.

5.  Lem bidang busur jangan dibuat mengkilap.

6. Apabila sextan disimpan dalam jangka waktu yang panjang hendaknya busur dan poros berulir dilapisi dengan vaselin.

2.3.7. Perambuan (A dan B)

            Menurut (Ismail. A, 1975), Rambu-rambu dalam navigasi laut terdiri dari dari 2 sistem, antara lain:

  1. Sistem A

Sistem A yang dimaksud adalah berlayar pada siang hari, saat memasuki pelabuhan maka ada tanda berwarna merah dan hijau. Warna hijau ada disebelah kanan kapal dan warna merah ada di sisi kiri kapal.

  1. Sistem B

Sistem A yang dimaksud adalah berlayar pada petang hari, saat memasuki pelabuhan maka ada tanda berwarna merah dan hijau. Warna hijau ada disebelah kiri kapal dan warna merah ada di sisi kanan kapal.

Tanda kardinal adalah tanda atau rambu laut (pelampung atau struktur mengambang atau tetap lainnya) yang digunakan dalam pemanduan maritim untuk menunjukkan posisi bahaya dan arah air yang aman.
Kardinal menunjukkan tanda arah keselamatan sebagai arah (kompas) kardinal (utara, timur, selatan atau barat) relatif untuk menandai. Hal ini membuat mereka berarti terlepas dari arah atau posisi kapal mendekat, berbeda dengan sistem tanda (mungkin lebih terkenal) lateral. Karakteristik dan makna tanda kardinal adalah seperti yang didefinisikan oleh Asosiasi Internasional Otoritas Lighthouse.

Sebuah tanda kardinal menunjukkan salah satu dari empat kompas petunjuk arah dengan: Arah dari dua kerucut yang ada diatas, yang dapat menunjuk ke atas, menunjukkan utara, bawah, menunjukkan selatan; terhadap satu sama barat, yang menunjukkan, atau jauh dari satu sama lain, menunjukkan timur. Ciri khasnya yaitu memiliki pola garis-garis hitam dan kuning, yang mengikuti orientasi kerucut hitam strip kuning ( PIP, 2005 ).

DAFTAR PUSTAKA

Akmal Ismail. 1975. Gema dan Radar (Navigasi Elektronika). Akademi Usaha Perikanan. Jakarta.

Arso Martopo. 1992. Ilmu Navigasi. Universitas Diponegoro. Semarang.

Draissma & Mulders. 1986. Buku Pelajaran Navigasi. BPLP. Semarang.

G.V. Rheenan. 1986. Buku Pelajaran Navigasi Jilid 5. BPLP. Semarang.

Supriyono Hadi. 2000. Ilmu Navigasi untuk Perguruan Tinggi (Non Kepelautan). Universitas Diponegoro kerjasama dengan BPLP. Semarang.

Tim Penyusun PIP. 2005. Peralatan Navigasi. Politeknik Ilmu Pelayaran. Semarang.

Usman Salim, MN. Capten. 1979.  Ilmu Pelayaran Jilid 1, Kesatuan Pelaut Indonesia. Jakarta.

http://adrianilham.blogspot.com/navigasi/posting 27 sept 2010/htm (15.00 WIB : 11 April 2011).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: